Politik dan Kita.





Sekitar tahun 2000 disaat gue masih duduk di bangku sekolah dasar, gue sering banget memandangi foto-foto presiden yang dipajang didepan kelas. Mulai dari Ibu Megawati sampai Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Pernah sempat terpikir oleh gue "Kenapa harus ada pemilihan presiden?" atau "Kenapa mereka yang harus terpilih? atau "Bagaimana caranya presiden bisa terpilih?". Saat itu gue hanya tau kalau presiden-presiden tersebut dipilih oleh masyarakat yang sudah menginjak umur 17 tahun keatas dan memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk), membuat gue menyesal karna gue belum cukup umur untuk menjadi salah satu pemilih. Hal yang bisa gue lakukan pada saat itu adalah nonton berita, mengikuti jalannya penghitungan suara, serta iri liat tinta yang ada di kelingking/telunjuk Bokap dan Nyokap.

Tahun 2014 adalah tahun pertama dimana gue bisa ikut merasakan europhoria Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Mulai dari galau mau pilih siapa, berkali-kali baca biografi dan visi misi dari calon Presiden dan Wakil Presiden sampe nonton streaming debat kandidat mereka di Youtube. Semua cara gue lakukan biar gue gak salah pilih pemimpin bangsa. Tak bisa dipungkiri, kalau kita sebagai rakyat, menginginkan pemimpin yang terbaik untuk tempat kita lahir, bernaung, menuntut ilmu, serta berpijak. Ibarat rumah yang tak bisa menjadi rumah bila tak memiliki atap dan Ibarat sebuah kapal yang tak akan bisa berlayar tanpa nahkodanya.

Pemilu Presiden, Pemilu DPR, Pemilu MPR, dan Pemilu DPD, tak lepas dari istilah "Politik". Banyak orang yang pro dan kontra ketika mendengar kata yang satu ini. Ada yang beranggapan bahwa politik itu kejam, memecah belah dan terdiri dari orang-orang yang bermuka dua, tetapi tak sedikit pula yang beranggapan bahwa politik itu penting seperti yang dikatakan oleh Jean Hollands seorang pelatih kepemimpinan, yaitu : "Orang yang mengatakan 'Saya tidak berpolitik' berada dalam bahaya besar. Hanya yang paling kuat yang akan bertahan hidup, dan yang paling kuat adalah orang-orang yang mengerti politik kantornya."

Semasa kuliah ini, gue berkecimpung di dunia Politik. Takdir mengantarkan gue mengenal salah satu Organisasi yang mewadahi upgrading skill kepemimpinan bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sewaktu pemilihan Presiden-Wakil Presiden RI kemarin, gue merasakan betul dinamika menjadi seorang pemilih. Tetapi, HMI memperkenankan gue untuk menjadi salah satu Tim Sukses Calon pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM Jurusan. Memang sudah menjadi kegiatan rutin tiap setahun sekali, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan PEMIRA atan Pemilu Raya guna memilih calon pemimpin baru mulai dari Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Ketua BEM Fakultas, sampai Ketua BEM Jurusan.

Sama halnya dengan Pemilu Indonesia, PEMIRA UIN juga memiliki partai-partai yang mengusung nama calonnya masing-masing. HMI pun dapat diibaratkan sebagai partai serta diimbangi dengan Organisasi atau partai lainnya seperti PMII, IMM, dan KAMMI. Gue merasakan seperti berada dalam Replika Indonesia di lingkup yang lebih kecil dan lebih dekat dengan keseharian. Pada kesempatan kali itu, gue yang kebetulan menjadi salah satu TimSes, belajar banyak tentang cara mappingan, menganalisis pemilih, tata cara pemenangan, strategi mempengaruhi pemilih, dan mengetahui karakter lawan. Ilmu-ilmu tersebut gak pernah gue dapetin dimanapun sebelumnya, gue pun merasa beruntung dapat menjadi salah satu yang bisa merasakan prosesnya. Anak kecil yang dulu hanya bisa memandangi foto presiden sampai nonton streaming calon presiden sebelum pemilihan, tanpa disangka-sangka dapat merasakan langkah demi langkah pemilihan calon pemimpin secara langsung, malah menjadi salah satu tim pemenangan walaupun masih lingkup Kampus.

Setiap orang ternyata memiliki naluri politik didalam dirinya. Seperti pengertian singkat Politik yang dapat gue simpulkan yaitu, Perencanaan, Pemecahan Masalah dan Sarana Perubahan serta Perbaikan. Sebagai salah satu contoh kecil, suatu hari gue mengajak teman-teman sekelas untuk ikut berpartisipasi dalam merencanakan penanaman tanaman hijau di lingkungan kampus agar dapat mengurangi kadar polusi udara. Tanpa disadari, gue telah menghimpun kekuasaan. Bukankah itu disebut sebagai Politik? Karna setiap orang dilahirkan untuk menjadi pemimpin, pemimpin untuk diri sendiri dan untuk kehidupannya. Dan inilah keuntungan berpolitik, kita dapat bermain kekuasaan demi kepentingan orang lain.

Gue pribadi setelah mengenal Politik lebih jauh entah mengapa dapat terlarut didalamnya. Seru, menantang, dan memacu adrenalin. Yang paling terpenting, Politik mengajarkan gue untuk menyadari betapa penting peran serta remaja bagi kemajuan bangsa. Sebab Politik mengajarkan kita untuk cerdas memilih pemimpin dengan sebaik-baiknya. Gue setuju dengan pendapatnya Ragwan Al-Aydrus dari Blog sebelah, yaitu "Kesadaran maupun pemahaman politik merupakan bekal penting bagi remaja sebagai regenerasi kepemimpinan bangsa ini. Keduanya dapat ditumbuhkan melalui partisipasi aktif: bagaimana mengamati, mendiskusikan isu-isu politik yang ada, bahkan belajar membuat kebijakan."

Jadi, selamat berpolitik kawan-kawan :)

Komentar

Postingan Populer