Cerpen; Gara-gara Es
| Sumber foto: http://makassartgallery.blogspot.co.id/ |
Hari ini adalah puasa hari ke-10 di bulan suci Ramadhan. Suasana kantor tempat aku bekerja hampir tidak ada yang berubah kecuali sepinya pedagang makanan. Jajaran bos maupun karyawannya masih sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Ada yang serius memasukan data ke komputer, ada yang menghitung pengeluaran pemasukan kantor, ada yang meeting dengan client, dan ada juga yang hanya duduk di kursi kerjanya sambil berselancar di dunia maya. Jangan tanya aku, karena aku termasuk salah satu karyawan yang duduk dikursi kerja sambil chatting di facebook dan membaca artikel media online. Pekerjaanku hari ini telah aku kebut kemarin, sebab, aku ingin pergi ke toko buku. Sudah setengah tahun aku bekerja di kantor periklanan sebagai tim kreatif. Otakku rasanya mau terbelah jadi dua. Aku bermaksud untuk sedikit menyembuhkan penatku, berhubung besoknya weekend. Selain itu, aku ingin berkeliling ke seluruh penjuru Mall, cari baju lebaran.
"Don, nanti jadi keluar?" ujar Reni, rekan kerja yang posisi duduknya berhadapan denganku.
"Iya. Jam 1-an" jawabku.
"Udah bilang si Bos?"
Ohiya. Bos ku yang satu itu memang rock and roll. Dia membebaskan karyawannya, apalagi tim kreatif, untuk mencari inspirasi di luar kantor satu kali dalam seminggu. Kali ini, aku akan gunakan jatahku itu untuk menghibur diri.
"Gausah deh. Bilang aja cari inspirasi. Hehehe"
"Dasar, Doni.. Doni..."
Tepat pukul 2 siang, aku bergegas keluar dari kantor dan mengendarai motorku menuju Mall di tengah kota Jakarta. Tujuan pertamaku adalah ke toko buku, setelah itu, aku mau mengitari sudut-sudut Mall. Siang itu panas sekali. Baru kusadari ternyata matahari sedang menikmati teriknya. Aku berkali-kali menelan ludah untuk membasahi tenggorokan.
Toko buku Mall ini memiliki pilihan buku yang lengkap. Lokasinya dikelilingi oleh kaca-kaca berukuran besar yang tembus pandang ke arah jalan raya. Sudah dua jam aku membolak-balik bermacam judul buku, namun, entah kenapa hal itu tidak cukup untuk menghilangkan penat di kepalaku. Lalu, aku lanjutkan dengan mengelilingi Mall yang kupikir luasnya mencapai 100.000 meter persegi. Sebenarnya banyak baju diskonan, tapi ternyata moodku sedang tidak ingin belanja. Aku mengarahkan langkahku lagi menuju toko buku. Saking bingungnya, aku hampir menabrak pintu masuk. Tak kusangka penat bisa membuat seseorang menjadi linglung.
Aku telah berada di rak buku-buku novel dan hendak mengambil salah satu novel terbaru karya Pidi Baiq berjudul "Milea, Suara dari Dilan". Tiba-tiba, mataku tertuju ke luar jendela. Seorang anak laki-laki sedang duduk di pinggiran jalan. Kukira usianya masih 12 atau 13 tahun. Ia memegang kantong plastik hitam besar berisi botol-botol aqua di tangan kirinya dan memegang se-plastik minuman di tangan kanannya. Entah minuman apa, yang jelas warnanya oranye. Aku bisa melihat es batu menguap membasahi plastiknya. Seketika perasaanku berubah kesal. Ingin rasanya aku menjewer anak itu. Lagi puasa begini, malah minum ditengah jalan, pikirku. Tak lama setelah itu, Ia berbalik menatapku. Aku terkejut dan salah tingkah. Anak itu dengan sengaja memamerkan minumannya untuk meledekku. Apa maksudnya?! Kemudian, Ia mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Emosiku memuncak. Aku buru-buru menghamburkan diri keluar toko buku, bermaksud untuk mengejarnya. Anak itu kemudian berlari meninggalkan tempatnya. Anak kurang ajar, musti dikasih pelajaran.
"HEH! JANGAN LARI!!!" ucapku berteriak.
Anak itu berlari cepat sekali. Baru setengah jalan aku mengejarnya, nafasku sudah tersengal-sengal. Aku tak kuasa menahan diri. Orang-orang di sekelilingku memperhatikanku dengan tatapan heran. Huh, ada saja yang menguji kesabaranku bulan puasa gini. Aku mengurutkan dada. Emosiku masih naik turun.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kejadian tiga hari lalu masih terngiang dalam ingatan. Siapa sih anak itu?! Berani-beraninya berbuat hal tidak sopan dengan orang dewasa, bahkan orang yang belum dikenal. Pikiranku melalang buana memikirkannya.
"Woy!"
Suara Reni mengagetkanku.
"Kenapa sih?"
"Pulang kali. Udah mau maghrib"
Aku melihat ke arah jarum jam. Sudah pukul 4 sore. Hari ini motorku sedang di service, jadi aku harus pulang kerumah naik busway. Untungnya, halte busway tidak jauh dari kantorku. Langit mulai meredup pertanda matahari menuju terbenam. Sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Aku mempercepat jalan. Ketika aku menyusuri trotoar, terlihat anak laki-laki memakai kaos berwarna merah, celana pendek hitam, membawa plastik besar, berjalan dari arah sebrang. Aku dengan cepat menyembunyikan diri di balik pepohonan. Kemudian, aku menyebrang dan mulai berjalan dibelakangnya. Aku mengikuti anak laki-laki yang wajahnya masih melekat di ingatanku itu hingga memasuki sebuah gang kecil. Setibanya di penghujung jalan, terdapat banyak tumpukan sampah yang baunya sangat menyengat. Bocah itu menemui seorang lelaki tua dan memberikan satu bungkus plastik berisi botol aqua. Lelaki tua itu membalasnya dengan memberikan se-plastik minuman es berwarna oranye seperti yang dipamerkan si bocah kepadaku didepan toko buku kemarin. Kemudian, Ia duduk diantara sampah-sampah plastik yang berserakan dan asyik menyeruput minumannya. Aku berjalan menghampirinya perlahan-lahan.
"Ehem"
Bocah laki-laki itu menoleh ke arahku. Ia terkejut dan bergelagat ingin kabur, tapi aku langsung mencegahnya.
"Hey, mau kemana? Disini saja dulu. Saya ingin bicara"
Pandangannya berubah sinis. Anak ini benar-benar harus dinasihati.
"Saya mau tanya. Kamu puasa atau tidak?"
Dia terdiam. Pandangannya masih terlihat sinis.
"Kalau kamu gak puasa, perlakuan tidak sopan kamu seperti kemarin menunjukan bahwa kamu tidak tenggang rasa dan menghormati sesama. Kalau kamu puasa, kamu sudah dalam dosa besar karena meninggalkan perintah Tuhan. Jadi Saya tanya, Kamu puasa atau tidak?"
Anak itu diam seribu bahasa. Aku tak bisa menahan emosi.
"Hey! Jawab!" ujarku agak berteriak. Tanganku memegang pundaknya. Tiba-tiba, Ia melerai genggamanku dan menatapku tajam.
"Ngapain puasa? Toh, setiap hari, saya sudah berpuasa kok" jawabnya.
"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti ucapannya.
"Ya, walaupun bukan bulan Ramadhan, setiap hari saya juga gak makan, jarang minum. Jadi jangan ajarkan saya tentang berpuasa, karena saya lebih banyak melakukan puasa dibandingkan kamu!"
Kepalaku seperti dihantam batu keras. Gantian, sekarang aku yang diam seribu bahasa. Aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Saya mau pergi. Saya harus bekerja untuk mendapat minuman. Urusan puasa atau tidak, itu urusan saya sama Tuhan"
Air mataku sukses berjatuhan bersama dengan rasa penyesalan. Anak itu berlalu dan baru saja memberiku pelajaran..


Komentar
Posting Komentar