Uji Kompetensi Wartawan. Siapa Takut!
Yuk kita curhat! Mumpung berbagi pengalaman masih gratis!
Jadi ceritanya, 2 hari kemarin, sedari tanggal 19-20 November 2016, gue ikut Uji Kompetensi Wartawan atau bila disingkat menjadi UKW. For information, UKW adalah serangkaian tes yang diadakan oleh Dewan Pers dan bertujuan untuk menguji wartawan-wartawan di wilayah tertentu. Kemudian, hasilnya nanti pun akan menentukan wartawan itu layak disebut kompeten atau belum. Poin pentingnya adalah bagi wartawan yang lulus akan mendapatkan sertifikasi resmi berupa kartu pers dari Dewan Pers atau artinya terdaftar tercatat tercantum sebagai wartawan resmi di Dewan Pers yang diperbolehkan melakukan liputan berita (dimanapun, kapanpun, gak bakalan ditolak narsum). Dalam hal ini, Dewan Pers ialah lembaga khusus yang menaungi, melindungi dan mengembangkan kehidupan wartawan. Konon katanya... tahun 2017 mendatang, Dewan Pers berniat memberlakukan sistem yang mungkin, bisa dibilang bakalan menyusahkan para wartawan, sebab pihaknya akan mengumumkan ke seluruh penjuru negeri kalau wartawan yang boleh melakukan wawancara dan meliput berita hanyalah wartawan yang memiliki kartu pers dari Dewan Pers. Maka dari itu, gue pun tertantang dengan hal tersebut dan berniat untuk ikut UKW.
So, dua hari kemarin menjadi hari penuh pengalaman baru. Gue ikut UKW yang diadakan Dewan Pers di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel). Organisasi pers yang gue ikuti yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tangsel, dipilih menjadi panitia penyelenggara kegiatan UKW. Disana, gue ketemu wartawan-wartawan senior yang sudah teruji kompetensi dan kualitasnya. Terlebih, penguji gue adalah wartawan dari LKBN Antara atau kantor berita nomor 1 di Indonesia. Sooooo excited!
Dalam genap dua hari, gue mengikuti beberapa rangkaian tes. Total dari tes tersebut berjumlah 9 unit tes. Tes UKW yang gue jalani ini bener-bener ketat banget persaingan maupun penilaiannya. Kalau ada satu kali kesalahan, dengan muka kecewa dan males-malesan ngeliat peserta yang gagal, penguji bakal langsung bilang "Ga lulus!". Gak terkecuali, penguji di kelompok gue yang hampir membuat gue tidak lulus tes.
Singkat cerita, di tes terakhir yakni "Tes Tejaring", gue diharuskan menulis 20 orang nama narasumber yang pernah gue wawancarai. Dari nama-nama itu, penguji memilih maksimal 3 nama untuk dihubungi. Penilaiannya nanti berfokus pada, apakah telfon gue diangkat narsum dan apakah narsum mengenal gue sebagai wartawan. Gue pun menulis nama-nama narsum yang sudah gue siapkan di hari sebelumnya (dapet bocoran dari peserta lama, he he he). Alhasil, penguji memilih 2 nama di lembar nama narsum gue yaitu Gun Gun Heryanto sebagai pakar politik alias Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang juga Dosen gue, dan AKBP Ayi Supardan sebagai Kapolres Tangsel. Gue seneng banget ternyata penguji memilih Pak Gun Gun. Soalnya, beliau sudah mengkonfirm akan menjawab telfon apabila gue hubungi. Namun, disinilah kepanikan dimulai. Tiba-tiba setelah gue hubungi via whats app terlebih dulu, Pak Gun Gun gak menjawab chat gue. Lebih parahnya cuman ceklist satu doang. Gue hanya bisa berharap keajaiban muncul dengan sekejap saat itu.
Pak Ayi yang gue hubungi pertama kali bisa mengangkat dan menjawab sapaan gue. Kepala Polisi wilayah Tangsel itu memang ramah sekali. Tapi, saat gilirannya Pak Gun Gun.. Jeng jeng! Taaaamat sudah riwayat. Sama sekali gak diangkat sampe 5 kali telpon. Penguji gue yang tetiba mukanya berubah garang pun bilang "Nilaimu 65 ya!" alias dibawah 70 alias gak lulus. Gue pun mohon-mohon, gak adil sebab narsum pertama bisa jawab telepon gue. Untungnya dia mau kasih gue kesempatan telepon dua orang lagi. Pilihan pun jatuh kepada Ibu Era selaku Pengurus UMKM Tangsel dan Pak Ruhman Teddy selaku Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Syukur Alhamdulillah keduanya bisa menjawab telepon gue. Detik-detik menegangkan pun terlewat dan gue bisa lulus di tes itu. Soal Pak Gun Gun.. Beliau baru menjawab chat gue sekitar setengah jam kemudian karena ternyata beliau ketiduran... Kelelahan katanya. Semangat Pak! :')
Tes lainnya yang gak kalah seru yaitu rapat redaksi, penulisan rubrik, penulisan berita, menyunting berita, jumpa pers, wawancara door stop, dan wawancara tatap muka. Semua jenis tes sebenarnya gak susah, karena merupakan bagian dari kegiatan yang dilakukan oleh wartawan sehari-hari dalam menulis serta mencari berita. Intinya, atas seizin Yang Maha Kuasa, gue bisa melalui semuanya dengan kata "gak-jelek-jelek-amat" atau kalau penguji gue bilang "Kamu lumayan lah!". Gue mensyukuri yang gue dapatkan ini. Padahal, gue belum genap satu tahun menjadi wartawan. Ada secercah kebanggaan yang muncrat-muncrat dari dalam hati. Alhamdulillaaaah...
Gue merasa kalo gue memang berprofesi sebagai wartawan setelah mengikuti UKW ini. Gue juga bisa mengukur kemampuan gue, sudah sampai dimana sih awareness, skill and knowledge gue sebagai seorang wartawan. Dari kemampuan yang telah ditakar itu pun, gue bisa berusaha meningkatkannya dengan terus belajar dan belajar.
Terakhir, Hey! Kalian para wartawan dan wartawati Indonesia, terutama yang berada di kantor-kantor media online, cetak maupun televisi ternama di bangsa ini, Ayo ikut UKW dan terdaftar secara resmi di Dewan Pers. ON PROGRESS, wartawan yang boleh meliput berita itu hanya wartawan yang telah memenuhi syarat, yakni memiliki kartu pers dari media tempat bekerja, memiliki kartu pers dari organisasi pers diakui Dewan Pers (AJI, PWI, ICTI), dan kartu pers dari Dewan Pers. Dan gue pun setuju akan hal itu! Profesi wartawan kini sudah banyak dipandang negatif oleh banyak orang mengingat media terlalu sering menuai kontroversi dengan memihak aktor-aktor politik tidak bertanggung jawab. Solusinya menurut gue adalah ikut UKW, karena dari UKW ini akan menghasilkan wartawan yang memang telah teruji dan berkompetensi. Gak sembarang orang nantinya bisa semena-mena ngaku jadi wartawan atau wartawan bodrex sebab ada UJIAN sebelum bisa disebut sebagai wartawan. Gue yakin dengan UKW, sedikit demi sedikit media di Indonesia bisa membangun kembali citranya yang sekarang dinilai tidak mengedepankan independensi dan kepentingan masyarakat melainkan kepentingan pribadi dari pihak tertentu. Kalau hal itu bisa dirubah, akan sangat pasti bila profesi wartawan menjadi profesi yang diidam-idamkan dan lebih mulia bahkan sejajar dengan profesi Dokter. Sebab, kalau Dokter menolong masyarakat dengan memberikan perawatan dan obat, Wartawan pun juga menolong masyarakat dengan bermacam informasi yang diberikan. Tanpa informasi harga cabe mahal, ibu-ibu gak bisa persiapin serangan tawar-menawar biar dapet harga cabe yang lebih murah! :p
Jadi, ikut UKW? Siapa takut!
| Foto bersama kelompok dan penguji, Theo Yusuf Said, wartawan LKBN Antara, usai mengikuti tes Uji Kompetensi Wartawan di Wisma Tamu Puspiptek, Setu, Tangsel, Banten, Minggu (20/11) |


Komentar
Posting Komentar