Waktu yang tepat

https://fromhoneywithlove.wordpress.com/2012/09/28/will-you-marry-me/

A g u n g

Hatiku berdesir hangat. Meski keringat saat ini membasahi wajahnya, ia tetap terlihat cantik padahal hari sudah gelap gulita. Kepala yang tertutup balutan jilbab merah muda membuatnya bak bidadari yang turun dari surga. Tiap gerak-geriknya membuatku nyaman seperti enggan beranjak dari kediaman. Aku memperhatikannya. Tanpa sadar tiba-tiba senyum di bibirku menjulang tipis terpesona. Ia sedang lahap menyantap mangkuk kedua mie ayam "Abah Sulaiman Jakarta" favoritnya semasa kuliah. Mungkin, gaya makan lahapnya itu menjadi salah satu alasan aku bisa jatuh cinta padanya. Sahabatku, Pertiwi Mulia.

Semilir angin yang menyentuh kulitku menambah kegugupan malam ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberitahu Pertiwi perihal gejolak cinta yang entah sejak kapan mulai tumbuh. Ya, akhirnya pula aku menyadari itu. Keragu-raguan atas perasaanku beberapa tahun silam ternyata malah menyiksa pikiran dan hatiku. Setelah hampir tujuh tahun Pertiwi yang aku temui semasa kuliah dan selalu menemani hari-hariku, aku akhirnya meyakini bahwa dialah satu-satunya sosok yang aku butuhkan. Perempuan yang tidak pernah lelah mendukung apapun keinginan dan citaku, menjagaku agar tidak salah melangkah dalam mengambil keputusan dan memupuk sikap pantang menyerah pada kehidupan si anak rantau ini. Begitulah ia memanggilku, "Si anak Rantau yang Agung".

Setelah hampir lima belas menit berkecamuk dengan pikiranku, aku pun memberanikan diri untuk mengatakannya. Sekaranglah waktu yang tepat. Lamaran yang telah aku siapkan sedemikian rupa dan aku harapkan bisa berakhir sesuai dengan keinginanku.

"Wi, aku mau ngomong sesuatu"

Pertiwi mendongakkan kepalanya dan melihatku. "Mau ngomong apa, Gung?"

Aku menarik napas dalam-dalam. Dengan sigap, aku berdiri dari kursiku, membentuk posisi berlutut menghadapnya dan menekuk satu lututku.

"Wi, aku kini menyadari satu anugerah terindah yang diberi Tuhan untuk hidupku. Anugerah yang aku sadari harus aku raih. Meskipun terlambat menyadarinya, tapi aku yakin ini waktu yang tepat untuk aku menggenggam anugerah yang sangat berharga itu dan tidak membiarkannya pergi. Anugerah itu adalah Kamu, Pertiwi, sebab kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku menjadi aku yang kuat, tegar dan berani melangkah menggapai citaku. Kamu pelipur laraku, pelengkap diriku yang jauh dari kata sempurna. Kamu yang kini aku cintai, aku kagumi, baik sebagai perempuan dan juga sahabatku..."

Aku pun membuka kotak kecil merah berisi cincin yang sudah aku ambil dari saku celanaku dan menyodorkan padanya.

"Agung..." Pertiwi terbelalak kaget dan matanya berkaca-kaca. Pengamen jalanan yang telah aku pesan menghampiri tempatku dan Pertiwi duduk. Seperti yang aku minta, pengamen jalanan yang terdiri dari penyanyi, pemain gitar dan pemain biola itu memainkan lagu Jason Mraz berjudul Lucky.

"Hehehe, maaf ya kalau kurang romantis, tapi permintaan ini sudah gak bisa lagi aku tahan dan aku yakin bila orangnya itu kamu. Sahabatku tersayang, Pertiwi, will you be my wife?"


7 tahun yang lalu..

P e r t i w i

Akhirnya, dia terpilih menjadi Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas, yang katanya adalah orang nomor satu di Kampus setelah Rektor. Ah, syukurlah. Aku kini bisa bernafas lega karena pemilihan ketua organisasi paling penting di kampus telah usai dan dialah yang menyandang predikat ketua organisasi penting itu. Tidak sia-sia jadinya sebulan ini aku terus berdoa, mendukung dan memberikan semangat untuknya. Rasa bangga yang teramat dalam membuat senyumku tiba-tiba tersungging lebar melihatnya meskipun hanya dari kejauhan. Sejak pertama kali aku mengenalnya, aku sudah yakin bila ia adalah calon orang sukses kelak, calon pemimpin masa depan. Si anak rantau yang Agung dari Yogyakarta. Sahabatku, Agung Membumi.

Agung sedang diarak keliling kampus oleh para pendukungnya. Mereka merayakan kemenangan dari sosok yang aku kagumi itu. Ya, aku mewajarinya sebab perjuangan Agung dan teman-teman pendukungnya seperti bolak-balik Yogyakarta-Jakarta dengan berjalan kaki. Agung pun sempat sakit karena kelelahan. Beberapa jam yang lalu, aku berdiri di sampingnya menyaksikan perhitungan suara. Aku mencuri-curi pandang kearahnya, dan.. ia masih saja menawan. Padahal saat itu, ia hanya mengenakan setelan jeans dan kaos warna biru pemberianku dipadu almamater kampus. Mungkin tidak hanya aku saja yang curi pandang untuk sekedar melihatnya sebentar. Agung memang memiliki banyak penggemar karena ia sangat cerdas, tegas, berwibawa, berkharisma dan dia memang layak untuk menjadi salah satu orang yang diharapkan mendampingi para perempuan.

"Wi, bengong aja. Makan yuk!"

Aku tidak sadar, Agung tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Buru-buru aku menghapus raut wajah yang sedang senyum-senyum karena memikirkannya.

"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?"

"Ng... Gapapa kok. Yuk, laper nih"

"Hari ini adalah hari istimewa karena aku bisa meraih apa yang aku inginkan dan ini semua berkat kamu juga. Jadi, untuk merayakannya, aku bakalan traktir kamu mie ayam Abah Sulaiman sepuasnya!"

"Wih, beneran nih?"

"Iyaa, beneran"

"Kalau gitu aku mau dua mangkok! Eh, tiga deh"

"Hahaha, dasar perut karung..."

Aku berjalan disampingnya. Ingin sekali aku menggenggam tangannya, tapi kuurangkan niatku itu. Biarlah perasaan ini mengalir seiring berjalannya waktu. Tidak apa-apa. Hanya dengan mengetahui perasaan kagumku telah berubah menjadi cinta, sudah bahagia bagiku. Biar waktu yang menjawab dan aku yakin, suatu saat nanti jika memang ditakdirkan, pasti tiba waktu yang tepat dimana Agung mengetahui perasaanku ini untuknya.

Komentar

Postingan Populer