Hujan
Suara hujan berhasil mengalihkan pikiranku yang sedari tadi asyik bercengkerama dengan lirik lagu yang terputar secara acak dari playlists ponsel pintarku. Cuaca Jakarta sedang berteman baik dengan hujan selama satu bulan ini. Tak jarang, hujan dibarengi oleh petir-petir menggelegar yang saling bersahut-sahutan. Mereka seperti menunjukan suara di menit berapa yang terdengar paling menakutkan. Aku menatap ke luar jendela. Jendela kamar yang biasanya kubiarkan tertutup, sengaja aku buka untuk sekedar melihat turunnya jutaan tetesan air dari atas langit. Angin pun kemudian leluasa masuk ke kamarku lewat jendela yang telah terbuka. Aku buru-buru menyembunyikan sekujur tubuh dibalik selimut sambil berusaha menikmati hujan di sore hari ini.
Klakson mobil dan motor yang berlalu lalang terdengar sangat jelas. Aku hampir heran bagaimana pengendara-pengendara itu bisa bertahan melaju diantara kerumunan-kerumunan air. Belum lagi rasa jengkel karena kerumunan air tersebut membasahi kendaraan kesayangan yang mungkin saja baru dicuci tadi pagi. Ada yang unik ketika hujan, sebab hujan bisa membuat orang berubah menjadi peramal. Ada yang meramal "Wah, hujannya pasti awet" hanya dengan mendengar deras atau tidaknya air yang turun dan gelap atau tidaknya awan yang terlihat.
Aku tidak pernah menyukai hujan. Bahkan dulu, aku berpikir hujan adalah cuaca paling menyusahkan. Beberapa kali aku dibuat kebasahan hingga sakit karena hujan. Di satu sisi, aku pernah mendengar bahwa hujan membawa keberkahan. Terutama bagi para pemilik perkebunan. Atau, berkah bagi para pekerja kantoran yang menganggap hujan sebagai alat untuk bermalas-malasan. Semua itu tidak merubah pendirianku. Aku tetap tidak menyenangi hujan. Tapi entah, kini, hujan selalu membuatku penasaran akan arti dan suasana yang tercipta di setiap kedatangannya.
Semua itu berawal ketika aku mengenal seseorang. Setiap kali turun hujan, dia berkata padaku,
"Jangan sampai kehujanan"
atau.. Kalau aku terlanjur kehujanan, dia ganti dengan berkata,
"Minum air hangat"
Semua itu bukan karena dia benci hujan, sepertiku. Bukan. Melainkan dia tau cara melindungi dari peristiwa yang tidak pernah aku pikir bisa dilihat sebagai kepentingan. Olehnya, kemudian aku mendapat suasana baru saat kerumunan-kerumunan air itu datang. Suasana istimewa yang belum pernah terasa sebelumnya. Kusadari pula apa yang dia katakan merupakan jawaban dari kebasahan dan kesakitan yang kurasakan, yang disebabkan hujan.
Dekat dengannya tidak pernah terprediksi. Seperti hujan yang terkadang bisa sampai ke bumi, sekalipun langit sedang cerah-cerahnya.
Bila disandingkan, aku melihat dia seperti jutaan tetes air hujan. Tetesan air yang membuatku penasaran, apa arti dari setiap kedatangan. Yang ternyata, arti-arti itu bisa disyukuri karena bersyukur adalah hakikat manusia dan arti adalah ketentuan Tuhan. Satu hal pasti yang kutahu dan kurasakan kini, hujan telah berubah memberiku rasa nyaman. Nyaman yang luar biasa, sampai aku tidak bisa membayangkan bila terlepas darinya.
Jakarta, 20 Oktober 2017
Rasa itu masih terasa jelas dan makin deras, sama seperti 2 bulan yang lalu.
Semoga yang dituju dikabulkan. Semoga yang diinginkan cepat tercapai.
Rasa itu masih terasa jelas dan makin deras, sama seperti 2 bulan yang lalu.
Semoga yang dituju dikabulkan. Semoga yang diinginkan cepat tercapai.



Komentar
Posting Komentar