BulanMu yang penuh rahmat

Tepat 10 hari di bulan Ramadhan. Setelah berbuka puasa dan selesai solat maghrib, Handphone ku berdering tanda sms masuk. Kulihat nama di layar, Haidar, sahabatku. Mengabarkan berita yang begitu mengejutkan. Ia diterima di Institut Teknologi Surabaya, Universitas yang sangat diidam-idamkannya. Perasaanku campur aduk antara senang, bangga, haru, dan takut. Bulan ini adalah bulan yang penuh dengan pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Aku pun menjadi salah satu orang yang dibuat gelisah oleh para universitas.
Aku terhenyak dan merasa ‘down’ mengingat diriku yang belum diterima di Universitas manapun. Dari 5 tes ujian masuk PTN yang aku ikuti, 4 diantaranya menolakku. Sekarang aku masih menunggu pengumuman yang terakhir dan jatuh pada hari ke-13 di bulan Ramadhan. Harapan terakhirku, pengumuman tes SPMB UIN Syarif Hidayatullah dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Kubaca lagi sms dari Haidar, tanpa sadar air mataku jatuh membasahi pipi.

Alhamdulillah, Ayu, gue diterima di ITS jurusan Matematika. Makasih untuk doa dan supportnya yaa. Gue harap 3 hari lagi gue juga bakalan dapet kabar bahagia dari lo. Tetep optimis, doa gue menyertai lo selalu. Insya Allah apa yang kita cita-citakan akan tercapai. Semangat Ayu PASTI BISA!

Pesan singkat yang membangkitkan sedikit semangatku. Tetapi, aku tetap tidak bisa keluar dari rasa ketakutanku. Bagaimana tidak, teman-temanku sudah mendapatkan sekolah mereka yang baru. Sedangkan aku? Seperti masih luntang lantung, belum mengetahui tempat untuk aku lanjut menuntut ilmu. Aku masih ingat pengumumanku yang pertama. Pengumuman itu berbentuk surat penolakkan dan Ibuku sampai menangis membacanya. Ibuku memang sangat berharap aku masuk Universitas Negeri. Sungguh seperti teriris hatiku melihat respon Ibu saat itu. Sudah 4 kali aku mengecewakan kedua orang tuaku, aku tidak ingin bertambah sampai ke 5 kalinya. Aku tidak tahan jika harus melihat raut kecewa di wajah mereka lagi.
Rasa takut yang mendalam membuatku kalut. Aku keluar dari kamar, duduk di ruang tamu dan menyalakan radio, alih-alih ingin menenangkan pikiranku sejenak dengan mendengarkan lagu.
Aku berpikir tidak karuan. Tidak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri, dan bertanya kepada Allah didalam hati :
Ya, Allah.. Kenapa aku tidak bisa membahagiakan kedua orang tuaku? Apakah ini takdirku? Kenapa aku tidak diizinkan melihat senyum di wajah mereka karna bangga padaku? Kenapa teman-temanku diizinkan tetapi aku tidak? Apakah aku tidak pantas bahagia? Dan apakah ini adil ya Allah..”
Aku begitu pesimis dan takut rasa sakit hatiku kembali aku rasakan jika aku ditolak lagi. Aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku jika aku melihat lagi tulisan “Maaf, anda belum di terima di Universitas ini”
Dengan mata yang masih sembab, aku melihat kesekeliling, seketika mataku terhenti pada sekotak rokok milik Ayahku. Hatiku bergejolak. Aku sangat tidak suka rokok, apalagi bau asapnya. Tetapi, saat itu seperti ada dorongan untuk aku mengambil dan mencobanya. Banyak orang yang bilang, dengan rokok kita bisa merasa tenang saat banyak pikiran. Ketika aku akan beranjak dari kursiku, tiba-tiba radio memutar lagu yang membuatku mengurungkan niat.

Dengan menyebut nama Allah
Jalani hidupmu
Yakinkan niatmu
Jangan pernah ragu

Dengan menyebut nama Allah
Bulatkan tekadmu
Menempuh nasibmu
Kemanapun menuju

Chorus : Serahkanlah hidup dan matimu
Serahkan pada Allah semata
Serahkan duka gembiramu
Agar damai senantiasa hatimu

Aku diam sejenak. Lagu ini dinyanyikan oleh Novia Kolopaking dan berjudul “Dengan Menyebut Nama Allah”. Ku dengarkan dan mencoba memahami liriknya satu persatu.  Subhanallah.. Hatiku bergetar seraya memohon ampun kepada Allah. Aku menangis sejadi-jadinya. Disitu aku tersadar, bahwa Allah lah tempat segala curahan hati, tempat meminta keberanian dikala merasa takut, tempat berserah diri disaat kegundahan hati melanda. Aku merasa saat itu, Allah telah menyelamatkanku.
Esoknya, aku bangun malam dan melaksanakan Shalat Hajat. Shalat sunnah yang kulakukan untuk pertama kalinya. Disitulah kuungkapkan tanpa malu segala keluh kesah dan keinginanku. Serasa aku sedang berbicara dan memohon secara langsung dihadapan Sang Pencipta. Sungguh nikmat rasanya. Perasaanku menjadi damai dan tentram. Percaya bahwa Allah bersama orang-orang yang berserah kepada-Nya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jam telah menunjukan pukul 23.45 dan lima belas menit lagi pengumumannya akan keluar. Jantungku berdegup kencang, gelisah tidak karuan. Rasanya ingin cepat-cepat melihat hasilnya. Aku terus berdzikir kepada Allah.

Ya Allah.. Apapun hasilnya nanti. Aku yakin itulah jalan terbaik yang engkau berikan untukku..

Pukul 24.00. Pengumuman sudah bisa dilihat. Kubuka laptopku dan kuketik website resmi UIN. Pengumumannya berbentuk proposal dengan nama-nama yang diterima sesuai jurusan pada tabel. Kuarahkan scroll kebawah. Kulihat satu persatu nama di lembar perlembar. Pada lembar kesekian, sampailah pada jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Terhitung ada 232 orang yang diterima. 

Bismillahirrohmanirrohim..
Lembar pertama..
Kulihat nama dari atas sampai bawah. Tidak ada namaku. Kulihat ulang nama dari nomer 1 dan tetap tidak ada namaku. Aku pasrah, berusaha mengendalikan jantungku yang rasanya mau copot.
Lembar kedua..
Kulihat lagi nama dari atas sampai bawah. Mencari dengan saksama nama yang kuharapkan menjadi salah satu yang diterima.
Dan aku menemukannya..

Ayu utami saraswati, terletak di nomer urut 98.

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Aku gemetaran, tidak percaya, aku sontak berdiri dan bersujud mengucapkan syukur tiada hentinya.

Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau mengabulkan doaku..

Aku keluar dari kamar, masuk ke kamar ayah dan ibuku yang telah terlelap sejak solat tarawih selesai. Aku mencium tangan ibuku.
“Ma.. Ayu keterima di UIN” Ibuku kaget dan terbangun.
“Alhamdulillah Ayu.. Selamat ya sayang” Ibuku menitikkan airmata, kemudian mencium keningku.
Rasa bangga dan haru menyelimuti malam itu. Ayahku juga terbangun, terlihat sumringah dan mengucapkan selamat untukku. Moment inilah yang paling ku tunggu. Disaat aku bisa melihat senyum kedua orang tuaku karna aku membahagiakan mereka. Aku tidak akan berhenti sampai disini untuk membuat kalian bangga padaku.

Disini aku belajar. Belajar berhusnudzon kepada Allah. Mungkin penting sekali untuk Allah menilai kesungguhan seseorang. Dulu disaat segala tes yang aku ikuti, aku berdoa seadanya setelah selesai shalat wajib. Tetapi disitulah tantangan dan ujiannya. Berkali-kali aku gagal, berkali-kali itu pula Allah melihat kesungguhanku. Aku belajar memahami kalau keinginan yang kuat harus disertai dengan usaha dan doa yang kuat pula. Disaat seseorang selangkah lebih maju melakukan usaha dan doanya, aku harus dua langkah lebih maju melakukan usaha dan doaku. Aku juga belajar pasrah, tawakal, dan berserah diri pada Allah. Karna sesungguhnya hanya Ia yang mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya, dan pertolongan Allah pasti datang tepat pada waktunya seperti firmanNya pada Surat Al-Insyiroh ayat 5 dan 6 yang artinya : “Karna sesungguhnya disetiap kesulitan ada kemudahan”.

Dan disinilah aku akan merajut kisahku yang baru untuk 4 tahun kedepan..
Subhanallah walhamdulillah walailahaillalahu allahuakbar.

Komentar

Postingan Populer