Anak Band Hinggap ke Menara Taspen
![]() |
Maryoso Sumaryono, Direktur Utama Asuransi Jiwa Taspen Life
foto ini diambil dari website investor.id
|
Penulis : Ayu Utami Saraswati
"Perkembangan dunia asuransi jiwa bagus. Upsizenya masih tinggi. Apalagi kalau di region ASEAN ini, dari populasi presentasinya kita salah satu yang paling rendah. Banyak pemain-pemain asing yang ingin invest di Indonesia, jadi dia bisa bikin join venture company dan prospeknya masih sangat tinggi. Disinilah tempat orang berkreasi. Jadi bidang ini sangat bagus, sangat promising lah"
Siang hari
menjelang akhir pekan, Jum’at, 22 Juni 2018, Infobank memenuhi jadwal ngobrol
dengan Presiden Direktur Asuransi Jiwa Taspen atau Taspen Life, Maryoso
Sumaryono, di Lantai 11 Menara Taspen, Jakarta.
Ditemani
secangkir teh manis hangat, perbincangan diawali dengan Maryoso berbagi
strategi memimpin Taspen Life hingga kembali meraih predikat “sangat bagus” dari
majalah ini selama dua tahun berturut-turut serta kiat-kiat menghadapi
tantangan bisnis tahun mendatang yang semakin kompleks.
Sesekali Maryoso
menyeruput teh manis hangatnya usai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Infobank.
Bukan perkara mudah bagi pria kelahiran Jakarta, 17 Juli 1958 ini, menghalau
berbagai tantangan di dunia Asuransi Jiwa yang telah ia geluti selama 30 tahun.
Namun, pengalaman
panjangnya itu menjadi pembelajaran bagi Maryoso dan membuat ia bertekad
membangun Taspen Life dengan gaya kepemimpinan partisipatif, alias terbuka bagi
segala pendapat. Akhirnya, ia berhasil membawa Taspen Life yang masih seumur
jagung terus menanjak.
Ada hal unik
dari ayah tiga anak ini. Ketika Infobank menyinggung perihal hobinya, tetiba di
tengah-tengah obrolan, Maryoso memutar lagu country era 80-an dari ponsel
pintarnya. Sambil senderan di kursi dan menghentakkan kaki, ia pamerkan lagu
favoritnya itu dari layar ponsel berukuran 5,5 inchi kepada tim infobank.
"Lagu ini
(country) ciri khas orang yang lugu, tidak neko neko, natural, apa adanya.
Nyanyinya juga gitu kan, ya. Cengkok-cengkoknya. Saya juga bisa mencekokan
seperti itu, waktu itu," katanya. Tertera di layar lagu berjudul Swallow
yang dinyanyikan oleh Larry Mcneely.
Rupanya,
lulusan Sarjana Matematika dari Universitas Padjajaran, Bandung ini, menyukai
musik sedari muda. Semasa kuliah, Maryoso aktif nge-band sebagai gitaris dan
vokalis bersama grup band yang berisi mahasiswa dari beberapa kampus di Bandung
bernama Mardigrass. Alat musik petik gitar, ia pelajari secara otodidak. Kemampuan
bermain alat musiknya itu pun menurun ke tiga orang anak laki-lakinya.
“Anak saya main
gitar juga. Ada yang main floit, ada yang piano, ada yang drum. Tapi mereka
sekarang sudah mau kuliah semua,” ujarnya.
Sekitar tahun
1980 sampai 1985 silam, Mardigrass terbilang eksis. Seringkali, nama band yang
merupakan akronim dari para pemainnya ini mengisi acara di Kafe serta Dies
Natalis dari jurusan ke jurusan, fakultas ke fakultas, hingga kampus ke kampus lain.
Setelah lama
rehat, Mardigrass kini mulai aktif manggung. Tak jarang, Maryoso diajak
teman-teman satu band-nya itu untuk bergabung. Namun karena kesibukan, ia pun
absen. Saat ini untuk mengobati rasa rindunya terhadap musik, ia bermain gitar
selepas bekerja atau waktu senggang di rumah.
“Kadang kalau mati lampu, tidak
ada kerjaan, udah main gitar aja. Dirumah ada gitar, piano, saya main piano
juga. Saya tinggal di town house, sesekali ketemu tetangga ditegor ‘Bapak kalau
nyanyi gak pernah selesai’. Jadi suara saya kedengeran sampai tetangga,” ungkapnya
sambil tertawa.
Selain lagu bergenre
country, Maryoso juga menyukai jenis aliran musik lain, seperti aliran musik
jazz dan rock. Mungkin bisa dibilang, Maryoso tak bisa lepas dari musik. Menurutnya,
musik membuat ia mudah berkreasi dan berimprovisasi dalam pekerjaan.
"Karena saya suka art. Jadi
otak kiri dan otak kanan jalan katanya. Buat saya kalau bisa menyelesaikan
suatu masalah itu, art juga perlu. Jadi jangan lihat satu angle. Misal, kita
mau ambil keputusan, kita harus lihat dari beberapa angle. Maka itu saya pakai
gaya partisipatif, saya tanyakan kepada yang lain, baiknya seperti apa, ambil
keputusan yang seperti apa,” kata pria yang juga hobi memasak ini.
Berkarir di asuransi jiwa seperti
mengalir bagai air. Setelah lulus sarjana, kemudian lanjut di College of
Science, University of the Philippines, menjalani 7 tahun wajib kerja dan
pulang ke Indonesia sebagai Master Of Science jurusan Ilmu Aktuaria, Maryoso
langsung didapuk menduduki posisi Direktur Teknik dan Keuangan AJB Bumiputera
1912 (1998-2007) serta Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri
(2008-2013). Kini ia dipercaya memimpin Asuransi Jiwa Taspen Life sejak 2014.
Bagi seorang
lulusan aktuaria, terjun di dunia asuransi tidak membuat banyak duka. Benar
saja, pelajaran aktuari yang terdiri dari pengelolaan risiko keuangan masa
depan, peluang, matematika, statistika, dan pemrograman komputer ini memang
terpakai saat Maryoso menjalankan perusahaan.
Maryoso sedikit
bercerita tentang aktuaria, jurusan kuliah master yang tak pernah ia rencanakan
sebelumnya. Padahal, definisi aktuaria saja pun kala itu ia tak tahu. Maryoso
sampai harus mencari artinya dengan membuka kamus. Tetapi, seolah tak takut
dengan hal baru, Maryoso berhasil menjadi salah satu ahli aktuaria yang jumlahnya
belum banyak di Indonesia.
Pengetahuannya
di bidang angka ia dedikasikan untuk mengajar. Sampingan profesi sebagai dosen
itu dimulainya sejak tahun 1990. Terakhir, sebagai pemain lama, Maryoso
mengajak generasi millennial agar terjun ke dunia asuransi jiwa yang merupakan
bidang menjanjikan di masa depan.
“Perkembangan
dunia asuransi jiwa bagus. Upsizenya masih tinggi. Apalagi kalau di region
ASEAN ini, dari populasi presentasinya kita salah satu yang paling rendah.
Banyak pemain-pemain asing yang ingin invest di Indonesia, jadi dia bisa bikin
join venture company dan prospeknya masih sangat tinggi. Disinilah tempat orang
berkreasi. Jadi bidang ini sangat bagus, sangat promising lah,” pungkasnya.
*Artikel ini sudah terbit di Majalah Infobank rubrik Profil September 2018*
Komentar
Posting Komentar