Sahabat atau bukan?

Sahabat.
Gue kenal kata ini semenjak duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Waktu itu seperti gerombolan anak-anak SD yang lagi seneng-senengnya main, gue pun memiliki beberapa temen juga sepantaran gue yang biasa diajak main bareng. Hari-hari terlewati dengan penuh canda dan tawa serta tanpa absen satu hari pun untuk bermain bersama. Mulai dari main kejar-kejaran, petak umpet, lompat karet, kuda tubruk, bola bekel, bola kasti, sampai memanjat pohon. Meskipun sering terjadi pertentangan kecil karna hal-hal sepele, tetapi tidak menyebabkan permusuhan lama antara satu dengan yang lainnya. Singkat cerita di sore hari setelah pulang sekolah, gerombolan yang terdiri dari 4 orang cewek (termasuk gue) dan 5 orang cowok sedang duduk menikmati senja dibawah pohon rindang sambil minum teh botol dan ngemil kacang pilus. Tiba-tiba, salah seorang cowok membuka pembicaraan.
"Eh, kalian punya sahabat gak?"
Kamipun saling bertukar pandang.
"Iya, sahabat, hm.. Temen deket yang paling kamu sayang banget. Bestfriend deh kalo bahasa inggrisnya.."
Terdengar suara pelan ber "oooh" ria tanda mengerti maksud pembicaraan. Kiki, salah satu temen cewek yang duduk disebelah gue mengeluarkan jawaban pertamanya.
"Gue punya, namanya Uwi dan Caca."
Semua yang hadir disitu tersontak kaget. Uwi dan Caca, dua orang yang termasuk dalam 4 orang cewek di geng 'main bareng' ini. Mereka bertiga saling membalas senyum satu sama lain. Gue hanya terdiam.
Kemudian, semua anak-anak polos itu mengeluarkan jawaban-jawaban mereka. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang menyebutkan nama gue. Entah gue yang salah denger, atau memang gak ada yang menganggap gue sebagai 'Temen Dekat Yang Paling Disayang'. Pada saat itu, satu hal yang gue ketahui adalah.. Gue telah menganggap mereka semua temen dekat yang paling gue sayang. Semuanya, tanpa terkecuali. Gue pun hanya bisa terdiam lagi. Terlanjur menahan sendiri rasa sedih dihati.
Setelah gue beranjak dewasa, gue tau alasan dibalik kejadian yang gue alami dulu.
Kebersamaan memanglah salah satu cara dimana kita bisa bertemu dengan sahabat atau 'teman dekat yang paling disayang', tetapi kita harus menyadari bahwa kebersamaan bukanlah satu-satunya cara. Sahabat belum tentu dapat hadir secara utuh dan tulus dari hati hanya dengan sering bermain bersama, sering berjalan bersama, ataupun sering bertukar cerita bersama. Tetapi, sahabat terbaik diperoleh melalui perjalanan yang tidak mudah.
Menurut Imam al-Ghazali ada dua belas kriteria sahabat, yaitu :
1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
2. Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu.
3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
5. Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu.
12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.
Prinsip gue, kalo kita mau mendapatkan seorang sahabat, kita juga harus menjadi sahabat untuk orang lain alias kita harus lebih dulu menjadi kriteria yang diatas.
Sering bersama belum tentu menjamin DIA bisa disebut sebagai sahabat atau bukan. Jangan menyimpulkan bahwa dia sahabat dengan hanya menilai dia ada disaat kalian tertawa, tetapi disaat kalian menangis pun, sahabat juga harus hadir didalamnya. Karna sahabat, tidak akan membiarkan kalian bersedih sendirian.
Satu hal lagi yang terpenting; Sahabat yang peduli terhadap perasaan dan hati kalian, tidak akan menyimpan suatu kabar walaupun itu menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar