Ormas Hantarkan Islam Mendunia


gambar: lifetechacademy.org


Ormas Hantarkan Islam Mendunia

            Ayu Utami S
Islam Indonesia berpotensi menjadi Islam yang dapat digaungkan ke kancah Internasional. Hal tersebut dilihat dari praktek keagamaan kedua ormas Islam besar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang terbukti mampu menjaga perdamaian, toleransi terhadap penganut agama lain serta mendorong kemajuan hidup umat Islam. Indonesia pun menjadi Negara Muslim paling demokratis.
“Menjadi Muslim tidak harus menolak dan menegasikan nilai-nilai modern yang tumbuh dan berkembang di Barat, dan disitulah salah satu kekhasan Islam Indonesia,” ujar Noorhaidi Hasan, Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta pada Konferensi Internasional di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (8/10).
Noorhaidi memaparkan peran penting ormas-ormas Islam yang merupakan bagian dari masyarakat sipil. Ormas Islam atau dikenal dengan istilah Post Islamist, berhasil membendung pengaruh komunitas gerakan Islam lain di Indonesia atau dikenal dengan istilah Islamist yang cenderung menggunakan kekerasan dan jihad fisik dalam perjuangannya.
“Kaum Post Islamist dapat menunjukan bahwa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi, human rights, dan kesetaraan gender,” paparnya.
Selain itu, Azyumardi Azra, akademisi Muslim sekaligus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 1998-2006 menjelaskan perjalanan panjang sejarah Islam di Indonesia. Ia berkata bahwa terdapat 3 gelombang besar gerakan pembaruan untuk mengembalikan ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya yakni abad 17-18, abad 19, dan abad 20 yang pada umumnya disuarakan oleh para ulama sekembali mereka dari belajar di Makah-Madinah.
“Pada gelombang terakhir, gerakan pembaruan tidak hanya dilakukan para individu tapi melalui organisasi-organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Dua ormas inilah Islam Nusantara menemukan warnanya yang moderat, inklusif, namun tetap menjaga ortodoksi dan mendukung nilai-nilai demokrasi,” katanya, Kamis (8/10).
“Ormas-ormas Islam sudah seharusnya berperan lebih aktif menyuarakan model ke-Islaman Indonesia agar mampu mendukung perdamaian dunia dan mengubah persepsi negatif tentang Islam, khususnya di negara-negara Barat,” tambah Azyumardi di Konferensi Internasional yang dihadiri oleh intelektual-intelektual dari dalam dan luar negeri.
Sementara itu, masih dalam Konferensi Internasional, James Hosterey seorang Professor dari Emory University, Atlanta, USA, memberitahukan langkah-langkah penting yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk memperkenalkan model Islam Indonesia yaitu nilai-nilai Islam yang  dibangun atas dasar pola pikir  yang lurus dan pertengahan atau disebut Islam Moderat ke dunia Internasional melalui jalur diplomatik.
“Langkah ini harus terus dilakukan agar muslim Indonesia mampu mengambil peran dalam penciptaan tata dunia baru yang lebih damai dan adil,” ujarnya.
Konferensi Internasional yang bertajuk “Southeast Asian Islam: Promoting Moderate Understanding of Islam” menjadi forum bagi para intelektual dan peneliti terkemuka berdiskusi tentang Islam Nusantara sebagai bagian dari studi Islam dan diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 8-9 Oktober 2015 di Auditorium Harun Nasution.
Selain Azyumardi Azra, Noorhaidi Hasan, dan James Hosterey, Konferensi tersebut dihadiri oleh beberapa intelektual lainnya seperti Masykuri Abdillah Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta, Leonard Andaya seorang Professor dari University of Hawaii, Honolulu, USA, dan Muhammad Ali seorang Professor dari Universitiy of California Riverside, USA. Mereka secara khusus mempresentasikan 46 makalah mengenai Islam Nusantara yang telah ditulis oleh mereka masing-masing.
“Diharapkan forum ini mampu menghasilkan rumusan yang kuat secara akademik bahwa Islam Nusantara atau Islam Indonesia layak menjadi disiplin atau paling tidak sub-disiplin dalam ilmu-ilmu humanities, sehingga keberadaannya mejadi lebih kuat untuk menarik minat para intelektual dunia mengkajinya,” ujar Saiful Umam, Ketua Panitia Konferensi Internasional, Kamis (8/10).
“Dengan demikian, pada gilirannya nanti, Islam Nusantara secara otomatis mampu mewarnai diskursus Islam secara global,” tambah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) itu.

Komentar

Postingan Populer