Si pembuka pintu setia

Mentari pagi telah muncul dipelupuknya
Ayam pun berkokok menandakan hari telah berganti
Di luar rumah terdengar lalu lalang kendaraan
Tanda mereka memulai aktivitas masing-masing
Tetapi, berbeda dengan Dia
Lelaki berperawakan kurus itu baru keluar dari kamarnya
Jenggot tipis, kumis dan rambutnya terlihat memutih
Kantung matanya menghitam tebal
Sebab Ia selalu menunggu anaknya yang sering pulang larut malam
Seperti biasa, hal pertama yang dilakukannya adalah masuk toilet
Pastinya untuk buang air, atau sekedar cuci muka agar segar sepenuhnya
Setelah itu, sendal jepit merek swallow andalan berwarna hijau menemaninya berjalan menuju dapur
Ia mengisi panci dengan air keran
Dinyalakannya kompor dan api pun keluar dari sumbunya
Panci diletakkan disana
Selang 3 menit, gelembung-gelembung muncul menandakan air telah mendidih
Ia mematikan kompor dan menuangkan air itu ke dalam cangkir berisi kopi dan gula
Dengan mata yang masih terkantuk, Ia berjalan lagi menuju sofa di depan rumah
Duduklah Ia akhirnya
Mengambil sebatang rokok dari atas meja yang telah siap dibakar
Ia bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menulis
Entah apa yang ditulisnya
Kertas-kertas itu menjadi buah pikirannya
Hasil dari pergolakan jiwanya
Yang hingga saat ini aku tidak mengerti apa maksudnya
Ia pun lanjut menulis ditemani kopi dan batang demi batang rokok
Kadang menyalakan radio agar suasana tidak melulu senyap
Sesekali melihatku ketika berlalu lalang
Kemudian bertanya, "Nak, hari ini pergi tidak?"
Dialah, Ayahku
Ayah yang setia membukakan pintu bagi anaknya selepas bersua
Ayah yang sama sekali tidak terlihat sakit
Pemandangan yang selalu aku saksikan setiap pagi itu
Yang ku tahu, takdirlah penentu kebiasaannya
Komentar
Posting Komentar