Cerpen; Bimbingan Skripsi Sehidup Semati (Part. 2)

Gue sampai di depan rumah Pak Guntoro. Rumah yang berinterior minimalis ini sudah tidak asing lagi buat gue. Gue sempat beberapa kali berkunjung kerumahnya untuk minta acc skripsi. Sengaja, sebab di kampus sering kena tolak. Kunjungan gue yang beberapa kali kerumahnya itu ternyata menjadi strategi amat jitu. Pak Guntoro selalu mau memberikan acc. Meski sebelumnya harus dilalui dengan perdebatan. Gue memarkir motor di halaman rumah yang banyak berjejer tanaman hias. Kemudian, gue berjalan menuju pintu masuk dan mengetuknya.
"Tok tok tok! Assalamu'alaikum"
Ga ada jawaban. Gue mengetuk lagi.
"Tok tok tok!! Assalamu---"
"Waalaikumsalam"
Suara jawaban salam itu sangat familiar di telinga. Dialah, Pak Guntoro membukakan pintu.
"Selamat datang, silahkan masuk"
Pak Guntoro mempersilahkan gue masuk. Gue pun mengikutinya berjalan dari belakang. Seperti biasa, di awal pertemuan kami pasti selalu canggung. Sebenarnya bukan canggung. Gue hanya melakukan jurus diam sejenak alias menebak-nebak sedang dalam mood seperti apa Pak Guntoro hari ini. Kalau mood dia baik, dia pasti akan memberikan sinyal-sinyal 'Kamu-Harus-Dengarkan-Cerita-Saya'.
"Sudah lapar, Kamu?"
Akhirnya Pak Guntoro memecah keheningan. Tapi, gue masih belum bisa menebak moodnya.
"Sudah sih, Pak. Hehehe" jawab gue tanpa basa-basi. Gue gak bisa menahan lagi cacing-cacing yang telah berdendang ria selama perjalanan menuju rumah Pak Guntoro.
"Oke kita langsung makan saja"
Kami berjalan menuju meja makan. Terlihat seorang perempuan paruh baya meletakkan piring berisi lauk-pauk di atas meja.
"Makasih ya, Bi" ujar Pak Guntoro kepada asisten rumah tangganya.
Gue sangat takjub melihat banyaknya jenis makanan di meja makan Pak Guntoro. Ada ayam bakar, udang goreng tepung, ikan gurame goreng, empal penyet, pepes tahu, tempe mendoan, sayur kangkung, urap, sambal dan lalapan.
"Pak? Gak salah Pak? Ini banyak amat Pak makanannya" tanya gue keheranan dengan mulut menganga gak beraturan.
"Anggap saja sebagai hadiah terselesaikannya skripsimu, juga merayakan rasa bersyukur saya tidak berurusan lagi dengan Mahasiswa ngeyel kayak kamu"
"Ohok!" Gue keselek. Air minum di mulut gue hampir muncrat ke mukanya. Yang ada saya yang batin punya Dospem kayak situ, Pak!
"Habiskan ya makanannya" Pak Guntoro melanjutkan. "Istri dan anak saya sedang ada acara di luar. Habis ini kamu gak langsung pulang kan?"
Seketika perasaan gue berubah total, ga enak. Akhirnya gue bisa menebak juga mood Pak Guntoro hari ini. Dan, sinyal-sinyal 'Kamu-Harus-Dengarkan-Cerita-Saya' pun baru saja diluncurkan. Tanpa berpikir panjang, gue harus cepat gagalkan!
"Ng... Anu, Pak.... Saya mau---"
"Temani saya sebentar. Ada yang ingin saya ceritakan. Kalau gitu, dimakan dulu"
Skak Match.
Ini nih yang namanya masuk ke kandang macan. Ya sudah lah.. Gue hanya bisa pasrah. Itung-itung sebagai rasa terima kasih gue karena di jamu makanan super mewah begini. Gue pun ancer-ancer makan porsi banyak supaya dapet energi banyak pula untuk mendengarkan kelanjutan Guntoro's First Love Story. Oke, Pak.. Saya Siap!
Jam menunjukan pukul 21.00 WIB. Perut gue buncit sebuncit buncitnya buncit. Kenyang banget. Gue duduk di kursi ruang tamu dengan posisi kaki selonjoran dan kepala nyender di penyangga kursi. Mata gue kriyep-kriyep menuju dipejamkan. Duh, kalau sudah kenyang memang paling enak langsung tidur....
"Lemes amat, Yan" tiba-tiba Pak Guntoro dateng dan membawa dua cangkir kopi.
"Eh, Pak.. Bikin kaget aja" Gue buru-buru membenarkan posisi duduk.
"Santai saja, Yan"
Ia meletakkan dua cangkir kopi diatas meja dan duduk di sofa depan gue.
"Nih, Kopi"
"Iya makasih, Pak" jawab gue mengangguk. Si Dospem satu ini tahu saja kebutuhan calon pendengar dongengnya, yaitu alat supaya tahan mengantuk.
"Saya gak nyangka skripsimu bisa selesai"
"Saya juga enggak, Pak"
Apalagi bisa lolos dari bimbingan bareng Bapak, tambah gue dalem hati.
"Susah membimbing skripsi Mahasiswa kayak kamu, sama halnya dengan saya susah menghilangkan bayangan Yulia" kata Pak Guntoro dengan mata menyendu.
Eng ing eng... Drama pun dimulai. Gue buru-buru menyeruput kopi karena sebenarnya mata gue sedang menuju redupnya. Ayo, Kopi, bantulah gue menyelesaikan tantangan ini.
"Yan, kemarin saya menghadiri acara Diskusi dan Pertemuan Dosen Hukum se-Asia. Dan... Kamu tau tidak?" Pak Guntoro memulai ceritanya. Seperti biasa, seru sendiri.
"Tidak, Pak"
"Saya bertemu dengan... Yulia"
Begitu mendengar Pak Guntoro bertemu dengan cinta pertamanya, gue terkejut. Selama ini, Pak Guntoro memang selalu bercerita tentang keinginannya menemui Yulia untuk menghilangkan rasa rindu dan menjalin tali silaturahmi kembali. Dia juga merasa ada sesuatu yang belum terungkap antara dirinya dengan Yulia. Pertemuan terakhir mereka sekitar 10 tahun lalu ketika Yulia berpamitan pergi ke Singapura untuk melanjutkan studinya. Sayangnya, Pak Guntoro tidak memiliki kontak atau nomor telepon saat Yulia berada disana. Padahal, dulunya mereka berdua adalah sahabat dekat. Sahabat yang sering kode-kodean alias Sahabat jadi cinta. Selain terkejut, pertemuan Pak Guntoro dengan Yulia membuat gue senang. Mungkin setelah pertemuan mereka ini, dongeng tentang Yulia akan segera berakhir.
"Seperti yang sudah saya duga, dia juga menjadi Dosen Hukum. Dia mengajar Hukum di Universitas Singapura" ujarnya melanjutkan.
"Terus terus, Pak? Kok bisa ketemu?" kata gue terhanyut dalam cerita. Gue bagaikan sedang menyaksikan sinetron favorit ibu-ibu masa kini.
"Iya, dia menjadi moderator diskusi. Yulia tidak berubah. Masih energik, cerdas dan kharismatik." Pak Guntoro menghela nafas. Sesekali, Ia memejamkan mata saat menceritakan pertemuannya dengan Yulia. "Saya melihatnya sangat jelas karena duduk di barisan paling dekat panggung. Saya tidak mungkin lupa rupa dan wajahnya. Begitu pembawa acara menyebutkan nama moderator diskusi, saya langsung tahu kalau itu dia"
"Terus, Pak? Bapak ngobrol apa aja Pak sama dia?" tanya gue lagi, penasaran. Gue gak sabar mendengar cerita tentang perbincangan Dospem gue itu dengan cinta pertamanya.
"Hm... Saya belum berbicara dengannya"
"APA!?" Gue keselek lagi. Kali ini keselek air liur gue sendiri. Gue kesel bukan kepalang begitu tau Pak Guntoro gak ngomong apa-apa sama tokoh utama dalam dramanya. "Bapak sudah 10 tahun ini kebayang-bayang sama Yulia, bilang pengen ketemu dan jalin komunikasi lagi, tapi pas orangnya ada di depan mata malah gak ngomong apa-apa?"
"Duh, Yan.. Waktunya kurang tepat" katanya membela diri. Mukanya memelas.
"Pak, tapi itu kesempatan. Kalau Bapak gak mulai ngomong sama dia, dongeng tentang Yulia gak bakalan kelar-kelar dong, Paaaaak....."
Astaga! Keceplosan bilang dongeng.
"Hah? Dongeng?"
"Eh, eh, maksudnya Saya, B-b-bapak minta kontaknya dia gak, Pak?" tanya gue gelagepan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, saya sempat minta nomor telponnya dari panitia penyelenggara"
"Terus udah di telpon belom?"
"Belom"
"Haduuuuh....."
"Saya gak berani, Yan. Saya takut Yulia gamau ngomong sama saya. Kalau diingat-ingat cerita dulu, Yulia mungkin marah karena saya menikahi perempuan lain. Jadi, saya takut saya malah ganggu hidupnya sekarang"
Gue tepok jidat. Drama abis.
"Pak, saya boleh kasih pendapat?"
"Pendapat apa?" terlihat jelas raut wajah Pak Guntoro seperti pria yang sedang meminta pertolongan.
"Menurut saya, Bapak akan menyesal kalau tidak berani berbicara dengannya"
"Kenapa begitu?"
"Bapak dengan Yulia itu sahabat lama. Ga ada salahnya memulai hubungan baru dengan sahabat yang sudah lama gak ketemu. Yulia dan Bapak pun sekarang sudah punya kehidupan masing-masing. Jangan masih disangkut pautkan dengan masa lalu"
"Saya pesimis. Sepertinya saya mau begini saja. Mengaguminya dari jauh. Saya lebih nyaman bila hanya mengingat dan mengenangnya"
Sumpah, Gak habis pikir sama jalan pikirannya Pak Guntoro. Udah ngeyel, drama pula. Dia nonton drama korea apa sih sampe melow begini. Gue harus rubah keputusannya. Gaboleh gue biarkan. Kalau dibiarin, dongeng tentang Yulia gak bakalan kelar-kelar.
"Oke, Pak. Dengerin saya baik-baik" kali ini giliran gue yang mencoba memberikan bimbingan ke Pak Guntoro. "Sekarang kita analogikan cerita Bapak dengan Yulia seperti kehidupan burung elang"
Gue menghela nafas panjang. Semoga kekuatan sok bijaksana gue ini dapat mempengaruhinya. Amin.
"Saya pernah membaca tentang siklus hidup Burung Elang. Elang itu bisa hidup hingga umur 70 tahun. Tapi sebelumnya, ia harus memilih antara mati atau bertransformasi. Di umurnya yang ke 40 tahun, cakar elang mulai menua, sayapnya tumbuh lebat dan tebal sehingga menyulitkan waktu terbang, dan paruhnya hampir menyentuh dadanya. Ketika elang memilih transformasi, ia harus terbang hingga puncak gunung dan membuat sangkar disana sebagai tempatnya bertransformasi. Elang pun akan melewati proses transformasi yang menyakitkan dan melelahkan selama 150 hari. Ketika elang berhasil melakukan transformasi, ia akan memiliki cakar baru, paruh baru dan energi baru serta memulai kembali kehidupan panjang hingga 30 tahun lamanya"
"Jadi maksud saya, Bapak harus berani memulai sesuatu untuk kebaikan seperti elang yang memilih bertransformasi. Bila diibaratkan Bapak adalah elang, Bapak harus memilih, lebih baik diam dan terpuruk kenangan Yulia seperti elang menunggu kematian atau mencoba memperbaiki hubungan dengan Yulia dan berteman baik lagi layaknya transformasi elang"
"Kenapa kamu bisa yakin kalau mencoba memperbaiki hubungan dengan Yulia seperti transformasi burung elang?" tanya Pak Guntoro. Mungkin, dia keheranan ngeliat gue mendadak kayak MarioTeguh.
"Transformasi atau memperbaiki hubungan dengan Yulia akan membuat Bapak lebih mudah menata masa depan"
"Maksud kamu?" Pak Guntoro mulai mengernyit dan memandang gue tajam.
"Menurut saya, saat ini Bapak sudah memiliki kehidupan yang sangat baik. Bapak memiliki gelar Professor di umur yang masih muda, mengajar di Universitas ternama, punya istri perhatian, punya anak yang berbakti sama Bapak. Dibandingkan terus menerus terbayang oleh sosok Yulia, ada baiknya Bapak memikirkan kebahagiaan Bapak sendiri yang saya yakin ada jika Bapak bersyukur dengan pemberian Tuhan. Sebentar Pak, saya minum kopi dulu"
Gue menyeruput kopi yang sudah dingin. Tersadar, kopi itu juga mengibaratkan percakapan gue dengan Pak Guntoro saat ini. Dingin.. Tapi, gue tetap optimis melanjutkan sesi menyadarkan Pak Guntoro. Berhasil atau tidaknya urusan nanti!
"Untuk transformasi atau hubungan Bapak yang nantinya kembali baik dengan Yulia," Gue memulai lagi, "akan memudahkan Bapak menjalani hidup kedepannya. Bapak bisa lebih fokus, tidak melulu membicarakan Yulia. Tapi, semuanya kembali ke Bapak. Apa bapak ingin berdamai dengan masa lalu atau terus terjebak olehnya. Saya yakin Bapak lebih mengerti analogi seperti ini dibandingkan saya"
Pak Guntoro agak menunduk. Matanya sendu tetapi terlihat jelas di wajahnya jika ia sedang berpikir. Sebenarnya, gue sembari berdoa dalam hati. Semoga percakapan ini tidak mempengaruhi skripsi gue atau jadwal sidang gue. Masa iya, gara-gara ini, gue gajadi sidang atau skripsi gue gajadi di tanda tangan. Jangan sampe..
"Saya gak ngerti analogi yang kamu berikan. Tapi, omongan kamu ada benarnya"
FIUUUUH! Bodo amat!
"Baik, besok pagi saya akan menghubungi Yulia. Saya akan berusaha memperbaiki hubungan saya dengannya. Saya sadar selama ini saya membuang-buang waktu mengingatnya terus-menerus. Pertemuan nanti saya yakini adalah pertemuan seorang teman lama"
"Nah cakep, Pak!"
Gue melihat ke arah jam. Sudah hampir jam 12 malam. Gue teringat belom membeli baju untuk sidang gue yang tinggal hitungan jam lagi.
"Pak, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, saya mohon izin pamit pulang ya, Pak. Besok saya harus menyiapkan keperluan sidang"
"Oh ok, baiklah"
Gue dan Pak Guntoro bangkit dari Sofa dan berjalan menuju pintu keluar.
"Oh ya, siapkan dirimu sidang 2 hari mendatang. Dan, terima kasih sudah menemani saya" kata Pak Guntoro tersenyum sambil menepuk pundak gue.
"Iya, Pak. Terima kasih juga dan sama-sama"
Begitu sampai rumah, gue takjub dengan peristiwa yang baru gue alami. Kenapa gak dari dulu aja gue ngomong ke Pak Guntoro kayak tadi. Selama ini, gue selalu 'iya-iya', 'ngangguk-ngangguk', 'njeh-njeh' kalau Pak Guntoro ngalor ngidul tentang Yulia. Ternyata gak terlalu sulit untuk menyadarkan dia buat menghentikan Gerakan Dongeng Seribu Satu Kalimat. Gue masuk kamar dan terlelap diikuti perasaan lega. Tinggal hitungan hari, gue bakalan bebas dari segala penderitaan ini. Gak ada lagi Pak Guntoro.. Gak ada lagi dongeng cinta pertama Pak Guntoro.. dan Selamat tinggal, Bimbingan Skripsi..
2 hari kemudian
Hari sidang pun tiba. Pagi buta tadi, dibantu Aji, gue menyiapkan konsumsi untuk para Dosen dan keperluan presentasi skripsi. Sidang gue dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 WIB. Melihat jam di tangan gue, masih ada sisa waktu 2 jam buat siapin mental dan mengisi perut. Sedari tadi, gue gabisa menyembunyikan perasaan nervous, grogi, ngeri, Ah! Campur aduk pokoknya. Aji yang merhatiin glagat gue pun komentar.
"Jangan mencret lo di dalem, Nyet" katanya ngeliatin muka gue yang kata dia kayak nahan berak.
Kampret! Kalau bukan gara-gara dibantuin dia beli makanan Dosen, udah gue bogem lo, Ji!
Gue menyempatkan diri untuk memanjakan lidah dengan sepiring lontong sayur di kantin kampus. Lumayan, energi biar gak pingsan waktu di serang Dosen Penguji. Disaat gue baru mengunyah potongan lontong yang ketiga, tiba-tiba handphone gue bunyi. Pak Guntoro mengirim pesan singkat,
Yan, ente dimana? Saya dan Dosen penguji sudah di ruangan sidang. Cepat kesini, kita mulai sekarang.
Buseeeh! Padahal masih jam 10.00 WIB. Jam tangan gue emang salah atau Dosennya emang rajin? Gue buru-buru ngabisin lontong-lontong yang tersisa karena gak mau menyia-nyiakan sepuluh ribu rupiah sepiringnya. Setelah selesai, gue setengah berlari menuju ruang sidang. Sampe di depan pintu, gue baca doa. Jantung gue rasanya mau copot. Deg-degkan, Men! Untungnya, kemeja putih dan celana bahan hitam di badan membuat gue percaya diri. Aji menepuk-nepuk pundak ngasih support. Bismillah.. Gue mengetuk pintu ruang sidang.
"Tok tok tok"
Gak ada jawaban dari dalam ruangan.
"Tok tok tok"
Gue makin deg-degkan. Gue mencoba mengetuk pintu untuk ketiga kalinya.
"Tok tok tok"
Masih gak ada yang jawab. Gue tarik nafas dalam-dalam dan mengumpulkan niat untuk membuka pintu ruang sidang. Tangan gue gemeteran diatas gagang pintu disaat gue menekannya. Pintu masih setengah terbuka, Gue bisa melihat Pak Guntoro duduk dikursinya sambil senyum-senyum.
"Masuk, Yan!"
Akhirnya, dengan segenap hati, gue melangkahkan kaki kedalam ruang sidang siap untuk mengakhiri penderitaan.
"DUG!"
"YAN?! YAAN?! RIAAAAAAN?!!!!"
Gue sontak bangun dari kursi dan celingak-celinguk. Pak Guntoro berdiri di depan gue. Matanya melotot sambil megang buku tebel banget di tangannya. Gak terasa, kepala gue nyut-nyutan.
"Pak??? Saya udah selesai sidang???"
"DUG!"
Pak Guntoro mukul kepala gue lagi.
"Sidang kepalamu peyang! Lagi ngerjain skripsi aja malah tidur! Aduh, Riaaaaaaaan!"
Gue ngelus-ngelus kepala bekas ditabok bukunya Pak Guntoro. Laptop gue masih nyala dan beberapa buku referensi skripsi juga masih tertata sangat anggun di atas meja. Seinget gue, gue ketiduran gara-gara dengerin Gerakan Seribu Satu Kalimat Dongeng tentang Yulia yang dilantunkan oleh Pak Guntoro. Oh, Tuhan.. Jadi, penderitaan ini belum selesai?
"Sana cuci muka! Dan lanjutin ngerjain skripsinya! Dasar!"
"I-iya, Pak...."
Gue keluar dari ruangan Pak Guntoro. Dan.... Meringis...
Cerita indah barusan cuman mimpi?! Rasanya, mau cepet pulang kerumah dan nanya ke nyokap; waktu hamil gue, dia ngidam apa sampe gue bisa sial begini. Skripsi gue ternyata masih betah di bab 3. Maka, itu artinya hari-hari gue kedepan bakalan terus diisi oleh dongeng Guntoro's First Love.
ARGH! I HATE YOU BIMBINGAN SKRIPSI!
"Tok tok tok"
Masih gak ada yang jawab. Gue tarik nafas dalam-dalam dan mengumpulkan niat untuk membuka pintu ruang sidang. Tangan gue gemeteran diatas gagang pintu disaat gue menekannya. Pintu masih setengah terbuka, Gue bisa melihat Pak Guntoro duduk dikursinya sambil senyum-senyum.
"Masuk, Yan!"
Akhirnya, dengan segenap hati, gue melangkahkan kaki kedalam ruang sidang siap untuk mengakhiri penderitaan.
"DUG!"
"YAN?! YAAN?! RIAAAAAAN?!!!!"
Gue sontak bangun dari kursi dan celingak-celinguk. Pak Guntoro berdiri di depan gue. Matanya melotot sambil megang buku tebel banget di tangannya. Gak terasa, kepala gue nyut-nyutan.
"Pak??? Saya udah selesai sidang???"
"DUG!"
Pak Guntoro mukul kepala gue lagi.
"Sidang kepalamu peyang! Lagi ngerjain skripsi aja malah tidur! Aduh, Riaaaaaaaan!"
Gue ngelus-ngelus kepala bekas ditabok bukunya Pak Guntoro. Laptop gue masih nyala dan beberapa buku referensi skripsi juga masih tertata sangat anggun di atas meja. Seinget gue, gue ketiduran gara-gara dengerin Gerakan Seribu Satu Kalimat Dongeng tentang Yulia yang dilantunkan oleh Pak Guntoro. Oh, Tuhan.. Jadi, penderitaan ini belum selesai?
"Sana cuci muka! Dan lanjutin ngerjain skripsinya! Dasar!"
"I-iya, Pak...."
Gue keluar dari ruangan Pak Guntoro. Dan.... Meringis...
Cerita indah barusan cuman mimpi?! Rasanya, mau cepet pulang kerumah dan nanya ke nyokap; waktu hamil gue, dia ngidam apa sampe gue bisa sial begini. Skripsi gue ternyata masih betah di bab 3. Maka, itu artinya hari-hari gue kedepan bakalan terus diisi oleh dongeng Guntoro's First Love.
ARGH! I HATE YOU BIMBINGAN SKRIPSI!
Komentar
Posting Komentar