Memo

Matahari sudah mencapai teriknya. Pagi baru saja berganti menjadi siang. Seperti hari libur biasanya, aku memilih untuk berjibaku bersama kopi favorit di coffee shop langgananku. Telah dua jam aku duduk didekat jendela dan membiarkan imajinasiku berkelana diatas keyboard laptop. Deadline draft novel terbaru yang sedang kukerjakan tinggal hitungan minggu. Maka, meskipun hari ini libur, aku tetap berusaha bertanggung jawab atas profesiku sebagai penulis.

Sesekali aku melihat ke sekeliling. Aroma khas kopi Aceh gayo memenuhi seluruh ruangan. Membuatku rindu kampung halamanku di sabang nusantara. Malam ini pengunjung tidak terlalu ramai sehingga aku bisa leluasa memperhatikan mereka menikmati kopi pesanan masing-masing.

Seketika pandanganku terhenti pada seorang perempuan berwajah bulat yang duduk di arah barat daya. Kacamata model klasik yang dikenakannya membuat ia mirip penduduk zaman 80an. Perempuan itu terlihat murung namun tatapannya sangat lekat seakan tenggelam bersama secangkir kopi di hadapannya. Mungkin sudah hampir sepuluh menit, dia hanya memandangi kopinya sambil menggerakkan jari telunjuk di muka cangkir. Ia pun masih tidak sadar sedari tadi aku memerhatikan gerak-geriknya. Rambutnya yang ikal panjang kecoklatan, kuhitung sudah dua kali iya ikat, kemudian dilepas kembali. Pikiran usilku tak tinggal diam dan terus menebak, apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu, yang siapapun pria sepertiku melihatnya, pasti mengatakan bahwa ia membuat penasaran.

Tiba-tiba dia menoleh pandang kearahku. Aku sontak kikuk karena tertangkap basah. Buru-buru aku berlagak meneguk kopi milikku. Aku masih mencuri-curi pandang. Ia akhirnya meneguk kopinya yang kuyakin telah lama dingin. Dingin, sedingin tatapannya saat tersadar ada pria yang barusan memperhatikannya.

Tak lama, perempuan itu bangun dari kursi menuju meja kasir. Ia membayar kopinya dan berlalu pergi. Aku tidak enak, merasa ia pergi meninggalkan tempatnya berpikir karena tingkahku. Ah sudah, biarlah.. Aku mencoba mengacuhkannya agar bisa kembali pada pekerjaan di hari liburku ini.

"Mas"

Suara lelaki menghentikan jariku. Aku menoleh, ternyata penjaga kasir.

"Iya. Oh, ada apa?"

"Tadi ada perempuan yang titip ini"

Penjaga kasir memberiku secarik memo kecil berwarna kuning.

"Perempuan? Perempuan mana ya?"

"Tadi, perempuan yang barusan pergi, Mas. Pakai kacamata"

Aku terkejut. Jangan-jangan perempuan berkacamata klasik tadi..

"Oh, iya terima kasih"

Aku menerima memo kuning itu dan membuka lipatannya, kemudian membaca tulisan singkat yang tertulis padanya.

Ada kala melihat yang tidak harus dilihat itu perlu.
Agar tidak mengganggu sekelilingmu.
Bisakah hanya peduli pada dirimu?
Dan tidak menerka-nerka orang lain.

Pikiranku sekejap melayang mencari bayangan perempuan yang telah pergi tak lama sebelum penjaga kasir menghampiriku. Baru pertama kalinya ada seorang perempuan yang sangat percaya diri, menasihatiku, dari secarik kertas. Memo kecil ini sukses membuatku terperangkap dalam segudang pertanyaan. Dan aku berharap perempuan berkacamata klasik tadi kembali, berkenan untuk menjawab tanyaku ini..

Apa memang ada mengganggu dari sekedar memperhatikan?

Komentar

  1. .... Karena mata adalah indera, yg bisa menyampaikan makna tanpa kata-kata

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer