Dari Celengan Ayam Ke Rekening Tabungan


Pulau Lengkuas, Kepulauan Bangka Belitung, 27 April 2018. Foto oleh Ayu Utami Saraswati


PangkalPinang, 31 Juli 2017

Putri menarik tanganku di tengah-tengah perjalanan pulang ke rumah. Kami setengah berlari. Adik kecilku itu tampak bersemangat ingin menunjukkan sesuatu padaku. Meski siang sedang terik-teriknya di kota PangkalPinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, namun ia tetap terlihat energik. Karena hari ini libur sekolah, Putri ngotot ingin ikut aku berdagang kue di Pasar Pagi, Kota PangkalPinang. Ditemani Putri cukup menjadi hiburan bagiku yang selalu berdagang sendirian.

Ketika sedang berlari-lari kecil, pandanganku tiba-tiba tertuju pada umbul-umbul besar yang terpasang di pinggir jalan bertuliskan :

“MENABUNG DI BANK, BERBUNGA DAN BERUNTUNG!”

Hmm…Benarkah?

  "Kak Arai, lihat sepatu itu!"

Teriakkan Putri membangunkan lamunanku. Setelah sadar, aku dan Putri ada di depan sebuah toko yang terlihat tak asing. Toko sepatu yang suka kulewati usai pulang sekolah.  Ia menunjuk sepasang sepatu berwarna merah muda dari balik jendela kaca besar. Aku pun juga terkesima melihatnya. Cantiknya.. Pikirku. Putri menarikku masuk ke dalam toko. Pelayan toko dengan sigap menghampiri kami.

  "Ada yang bisa dibantu?"

Aku terkesiap. Tertera sepatu itu seharga Rp500 ribu. Meski ingin, namun aku tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.

  “Gak apa-apa, Mba.. Kami mau lihat-lihat dulu”

Setelah melihat-lihat, Aku dan Putri bergegas keluar.

  “Putri mau sepatu itu ya?”

Ia mengangguk pelan. Senyum yang tadi menyungging di wajahnya, tiba-tiba hilang. Aku mengelus-elus rambut panjang hitam Adikku yang baru berumur 7 tahun itu dengan lembut.

  “Dik.. Sabar ya.. Suatu hari nanti kita pasti bisa beli sepatunya”

  “Iya kak”

Aku dan Putri melanjutkan perjalanan pulang ke rumah sambil bergandengan tangan.

Keinginan adikku itu terus terngiang-ngiang. Aku mulai berpikir bagaimana caranya mewujudkan ingin adik semata wayangku itu. Aku tidak mungkin memberi tahu  Bapak dan Ibu. Mereka sudah cukup banyak pengeluaran untuk mengurus Mas Redi, Mas Dato, Mba Yuli, aku dan Putri yang kesemuanya masih mengemban bangku sekolah. Aku sendiri sekarang sudah berada di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang sebentar lagi akan lulus dan butuh biaya untuk masuk sekolah baru.

Kami adalah keluarga kecil sederhana di Pulau Belitung. Bahkan, daerah rumahku untuk terjamah bank saja belum karena kendala infrastruktur. Tidak ada satupun kantor cabang Bank di dekat rumahku. Semua kantor cabang Bank hanya terdapat di kota saja. Maka, jarak bank dan rumahku menjadi sangat jauh. Hal itu membuatku setiap harinya hanya bisa menabung lewat celengan ayam kecil dari tanah liat yang dibelikkan Bapak. Beliau mengajariku untuk menabung sejak aku Sekolah Dasar (SD), “Nabung itu bisa bikin beruntung” katanya. Namun, uang tabungan yang ada di celengan itu rencananya akan aku gunakan pula untuk membeli sepatu sekolah baru--yang juga seharga Rp500 ribu--tahun depan ketika aku naik tingkat ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Lalu, bagaimana dengan keinginan Putri?

Tetiba, aku teringat umbul-umbul yang tadi kulihat di pinggir jalan. Menabung di Bank bisa dapat bunga? Apa benar? Kalau benar, lumayan sekali untuk tambahan membeli sepatuku dan Putri.

Setelah berpikir panjang dan menimbang-nimbang, akhirnya ku putuskan untuk mencoba menabung di Bank. Kendala jarak jauh dari rumah ke Bank ku hiraukan. Yang penting, aku bisa beli dua pasang sepatu.

Sampai dirumah, tanpa sepengetahuan Bapak, Ibu dan saudara-saudaraku, aku memecahkan celenganku. Usai menghitung, totalnya berjumlah Rp150 ribu. Baiklah.. Cukup untuk modal awal tabungan. Kemudian, aku menyiapkan pula persyaratan pembuatan tabungan yang tadi sempat ku baca dari umbul-umbul seperti kartu pelajar dan foto copy kartu keluarga. Aku pun bertekad rajin menabung di Bank yang ada di kota setiap bulan agar tabunganku bisa mencapai Rp1 juta dalam waktu satu tahun, meski jarak Bank sejauh 219 km dari rumah.

Setahun Kemudian..

Di hari Senin pagi berbungkus langit yang masih gelap itu, aku dan Bapak menuruni kapal KM Bahari Ekspress dari pelabuhan Pangkalan Balam dengan membawa kue-kue dan ikan dagangan.

  “Hati-hati, Arai. Nanti ketemu Bapak lagi disini jam 4 sore” kata Bapak yang langsung berjalan ke pinggir pelabuhan dengan dagangan ikan segarnya.

  “Terima Kasih, Pak. Bapak juga hati-hati”

Aku berjalan keluar dari pelabuhan hendak menunggu angkutan umum warna merah menuju Kota PangkalPinang yang biasa kunaiki. Meskipun punya mabok laut, 4 jam berada di kapal sudah tak apa bagiku.

Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu berdagang kue-kue khas Kepulauan Bangka Belitung seperti kue Getas, kue Rintak, Kempelang, Kecalo, dan Bong Li Piang di Pasar Pagi Kota PangkalPinang. Kemudian, aku melanjutkan kegiatan untuk pergi ke sekolah, yang untungnya dekat dari pasar, dan pulang jam 2 siang.

Namun, ada yang berbeda dari rutinitasku satu tahun belakangan ini. Sepulang sekolah, aku tidak langsung naik angkutan umum ke pelabuhan. Meskipun aku sebenarnya dikejar jadwal kapal jam 4 sore, tetapi aku tetap harus mengunjungi tempat ini terlebih dulu.

Tempat tersebut adalah Bank. Selain untuk sekolah dan berdagang kue, sudah setahun tiap bulannya, aku bolak balik dari rumahku di pulau Belitung ke kota PangkalPinang, juga untuk menyetor uang yang aku sisihkan sedikit dari hasil berdagang kue ke Bank. Kenapa sedikit, karena uang hasil berdagang kue itu harus aku alokasikan untuk biaya transportasi harian, membantu orang tua membayar uang sekolah dan membeli keperluan sekolah sendiri seperti buku, seragam, dan alat tulis lainnya. Aku tidak mau meminta uang ke Bapak dan Ibu. Apalagi, Bapak hanya penjual ikan dan Ibu tukang bersih-bersih rumah, dan mereka harus menghidupi kelima anaknya. Jadi, aku tidak ingin menambah beban mereka.

Perjalananku ke Bank bisa dibilang lumayan melelahkan. Sebab, aku harus berjalan kaki sejauh 5 km karena uangku tidak cukup untuk membayar angkutan umum dari sekolah ke Bank.

Tetapi, hari ini, letih dan jerih payah yang kurasakan demi menabung ke Bank akan segera menuaikan hasil.

Ah, ya.. Sudah setahun rupanya aku rutin menabung dan hari ini adalah waktu jatuh tempo dimana tabungan berjangka yang aku buat satu tahun lalu bisa dicairkan. Sudah Rp1 juta belum, ya, jumlahnya? Sembari menunggu angkutan umum, aku mulai berhitung dan menerka-nerka apa hasil tabunganku itu bisa mencapai target senilai Rp1 juta atau tidak. Aku sangat tidak sabar juga bersemangat.
*********
Bank, Kota PangkalPinang

  “Total tabungannya ada Rp825 ribu” kata teller bank usai aku memberikan buku tabungan kepadanya.

  “Totalnya tidak Rp1 juta? Bukannya ada bunga, ya?” tanyaku dengan muka terkejut. Keringat masih membanjiri dahi dan juga seragam sekolahku. Setelah bel pulang sekolah, aku langsung berlari ke Bank saking semangatnya.

  “Iya, total tabungan Rp780 ribu ditambah dengan bunga jumlahnya menjadi Rp825 ribu”

  “Hmm, begitu, ya.. Ya, sudah, Bu.. Saya ambil semua uangnya”

Aku berusaha tersenyum. Ternyata totalnya tidak cukup. Tidak, apa-apa... Aku bisa kejar target untuk menabung lagi agar tabunganku genap berjumlah Rp1 juta. Atau, uang tabungan ini bisa kugunakan untuk membeli sepatu Putri terlebih dulu agar ia tidak kecewa.

  “Ini, totalnya Rp825 ribu ya” teller bank memberikan sejumlah uang yang tadi disebutkannya padaku.

  “Baik. Terima kasih”

Aku bergegas keluar dari Bank.

  “Oh, ya, tunggu sebentar, Dik. Ada informasi tambahan”

Teller bank tadi memanggilku.

  “Ada apa, Bu?”

  “Adik menjadi salah satu nasabah yang aktif menabung selama satu tahun. Oleh karena itu, Adik berkesempatan menerima hadiah dari program ‘AYO MENABUNG’ dan bisa memilih satu diantara 3 paket hadiah yang akan diberikan. Pertama, paket alat-alat memasak, kedua, paket bingkisan perlengkapan sekolah, ketiga, paket bingkisan sembako"

  “Oh, begitu..” sahutku tidak tertarik.

 “Paket alat-alat masak terdiri dari penggorengan, sendok kayu, panci. Paket bingkisan perlengkapan sekolah terdiri dari buku tulis dan sepatu, kemudian ketiga—“

Mataku terbelalak. “Apa, Bu? Ada sepatu?”

Aku memotong omongan teller tersebut, seketika sangat antusias.

  “Iya, satu pasang sepatu sekolah. Hadiahnya bisa dipilih sekarang dan bisa diambil hari ini juga”

  “Saya pilih paket kedua!”

Air mataku tidak dapat terbendung lagi. Aku keluar dari pintu gerbang Bank dengan mata berkaca-kaca. Aku tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur. Kabar mengejutkan itu membuat hatiku terasa bahagia bercampur haru. Meskipun aku mendapat sepatuku dengan cara lain, tapi aku sangat bersyukur. Tak pernah terpikir olehku kalau hadiah menabung bisa melebihi ekspektasi. Padahal, aku hanya ingin mendapatkan uang Rp1 juta dari tabunganku agar bisa membeli dua pasang sepatu, tapi aku mendapatkan lebih. Bahkan, uang tabunganku yang tadinya kurang itu malah jadi bersisa.

Tiba-tiba ingatan satu tahun lalu terbesit dalam benak. Hari ketika aku memutuskan untuk mulai menabung di Bank dari yang sebelumnya hanya menabung lewat celengan ayam karena sebuah keinginan kecil adikku dan aku, yang kini keinginan itu telah berada dalam genggaman. Ini semua karena aku menabung. Ya, karena itu aku bisa beruntung. Keputusanku menabung di Bank memang sudah tepat.

Aku buru-buru pulang ke rumah dengan menenteng plastik berisi perlengkapan sekolah, juga sepatu sekolah baru milikku dan uang tabungan untuk mengajak Putri membeli sepatu impiannya.



*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan Lembaga Penjamin Simpanan bertema "Inspirasi Menabung" dan mendapat juara favorit 3"

#LOMBALPS #AYOMENABUNG


Komentar

  1. Wah ini inspiratif sekali. Btw jauh sekali ya lokasi ke Bank dari rumah, 2019 km. Kalo di tempat saya dari Jogja ke Purwokerto, jauh banget. Tapi keren sekali ceritanya, selamat ya atas kemenanganya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer