Dari Celengan Ayam Ke Rekening Tabungan
PangkalPinang, 31 Juli 2017
Putri menarik tanganku di tengah-tengah perjalanan pulang ke
rumah. Kami setengah berlari. Adik kecilku itu tampak
bersemangat ingin menunjukkan sesuatu padaku. Meski siang sedang terik-teriknya
di kota PangkalPinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, namun ia tetap
terlihat energik. Karena hari ini libur sekolah, Putri ngotot ingin ikut aku
berdagang kue di Pasar Pagi, Kota PangkalPinang. Ditemani Putri cukup menjadi
hiburan bagiku yang selalu berdagang sendirian.
Ketika sedang berlari-lari kecil, pandanganku tiba-tiba tertuju
pada umbul-umbul besar yang terpasang di pinggir jalan bertuliskan :
“MENABUNG DI BANK, BERBUNGA DAN BERUNTUNG!”
Hmm…Benarkah?
"Kak Arai, lihat
sepatu itu!"
Teriakkan Putri membangunkan lamunanku. Setelah sadar, aku dan
Putri ada di depan sebuah toko yang terlihat tak asing. Toko sepatu yang suka
kulewati usai pulang sekolah. Ia menunjuk sepasang sepatu berwarna merah
muda dari balik jendela kaca besar. Aku pun juga terkesima melihatnya.
Cantiknya.. Pikirku. Putri menarikku masuk ke dalam toko. Pelayan toko dengan
sigap menghampiri kami.
"Ada yang bisa
dibantu?"
Aku terkesiap. Tertera sepatu itu seharga Rp500 ribu. Meski ingin,
namun aku tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.
“Gak apa-apa, Mba.. Kami
mau lihat-lihat dulu”
Setelah melihat-lihat, Aku dan Putri bergegas keluar.
“Putri mau sepatu itu ya?”
Ia mengangguk pelan. Senyum yang tadi menyungging di wajahnya,
tiba-tiba hilang. Aku mengelus-elus rambut panjang hitam Adikku yang baru
berumur 7 tahun itu dengan lembut.
“Dik.. Sabar ya.. Suatu
hari nanti kita pasti bisa beli sepatunya”
“Iya kak”
Aku dan Putri melanjutkan perjalanan pulang ke rumah sambil
bergandengan tangan.
Keinginan adikku itu terus terngiang-ngiang. Aku mulai berpikir
bagaimana caranya mewujudkan ingin adik semata wayangku itu. Aku tidak mungkin
memberi tahu Bapak dan Ibu. Mereka sudah cukup banyak pengeluaran
untuk mengurus Mas Redi, Mas Dato, Mba Yuli, aku dan Putri yang kesemuanya
masih mengemban bangku sekolah. Aku sendiri sekarang sudah berada di kelas 3
Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang sebentar lagi akan lulus dan butuh biaya
untuk masuk sekolah baru.
Kami adalah keluarga kecil sederhana di Pulau Belitung. Bahkan,
daerah rumahku untuk terjamah bank saja belum karena kendala infrastruktur. Tidak
ada satupun kantor cabang Bank di dekat rumahku. Semua kantor cabang Bank hanya
terdapat di kota saja. Maka, jarak bank dan rumahku menjadi sangat jauh. Hal
itu membuatku setiap harinya hanya bisa menabung lewat celengan ayam kecil dari
tanah liat yang dibelikkan Bapak. Beliau mengajariku untuk menabung sejak aku
Sekolah Dasar (SD), “Nabung itu bisa bikin beruntung” katanya. Namun, uang
tabungan yang ada di celengan itu rencananya akan aku gunakan pula untuk
membeli sepatu sekolah baru--yang juga seharga Rp500 ribu--tahun depan ketika
aku naik tingkat ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Lalu, bagaimana dengan
keinginan Putri?
Tetiba, aku teringat umbul-umbul yang tadi kulihat di pinggir
jalan. Menabung di Bank bisa dapat bunga? Apa benar? Kalau benar, lumayan
sekali untuk tambahan membeli sepatuku dan Putri.
Setelah berpikir panjang dan menimbang-nimbang, akhirnya ku
putuskan untuk mencoba menabung di Bank. Kendala jarak jauh dari rumah ke Bank
ku hiraukan. Yang penting, aku bisa beli dua pasang sepatu.
Sampai dirumah, tanpa sepengetahuan Bapak, Ibu dan
saudara-saudaraku, aku memecahkan celenganku. Usai menghitung, totalnya
berjumlah Rp150 ribu. Baiklah.. Cukup untuk modal awal tabungan. Kemudian, aku
menyiapkan pula persyaratan pembuatan tabungan yang tadi sempat ku baca dari
umbul-umbul seperti kartu pelajar dan foto copy kartu keluarga. Aku pun
bertekad rajin menabung di Bank yang ada di kota setiap bulan agar tabunganku
bisa mencapai Rp1 juta dalam waktu satu tahun, meski jarak Bank sejauh 219 km
dari rumah.
Setahun Kemudian..
Di hari Senin pagi berbungkus langit yang masih gelap itu, aku dan
Bapak menuruni kapal KM Bahari Ekspress dari pelabuhan Pangkalan Balam dengan membawa
kue-kue dan ikan dagangan.
“Hati-hati, Arai. Nanti
ketemu Bapak lagi disini jam 4 sore” kata Bapak yang langsung berjalan ke
pinggir pelabuhan dengan dagangan ikan segarnya.
“Terima Kasih, Pak. Bapak juga
hati-hati”
Aku berjalan keluar dari pelabuhan hendak menunggu angkutan umum warna
merah menuju Kota PangkalPinang yang biasa kunaiki. Meskipun punya mabok laut,
4 jam berada di kapal sudah tak apa bagiku.
Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu berdagang
kue-kue khas Kepulauan Bangka Belitung seperti kue Getas, kue Rintak, Kempelang,
Kecalo, dan Bong Li Piang di Pasar Pagi Kota PangkalPinang. Kemudian, aku
melanjutkan kegiatan untuk pergi ke sekolah, yang untungnya dekat dari pasar, dan
pulang jam 2 siang.
Namun, ada yang berbeda dari rutinitasku satu tahun belakangan
ini. Sepulang sekolah, aku tidak langsung naik angkutan umum ke pelabuhan.
Meskipun aku sebenarnya dikejar jadwal kapal jam 4 sore, tetapi aku tetap harus
mengunjungi tempat ini terlebih dulu.
Tempat tersebut adalah Bank. Selain untuk sekolah dan berdagang
kue, sudah setahun tiap bulannya, aku bolak balik dari rumahku di pulau
Belitung ke kota PangkalPinang, juga untuk menyetor uang yang aku sisihkan
sedikit dari hasil berdagang kue ke Bank. Kenapa sedikit, karena uang hasil
berdagang kue itu harus aku alokasikan untuk biaya transportasi harian,
membantu orang tua membayar uang sekolah dan membeli keperluan sekolah sendiri seperti
buku, seragam, dan alat tulis lainnya. Aku tidak mau meminta uang ke Bapak dan
Ibu. Apalagi, Bapak hanya penjual ikan dan Ibu tukang bersih-bersih rumah, dan
mereka harus menghidupi kelima anaknya. Jadi, aku tidak ingin menambah beban
mereka.
Perjalananku ke Bank bisa dibilang lumayan melelahkan. Sebab, aku
harus berjalan kaki sejauh 5 km karena uangku tidak cukup untuk membayar
angkutan umum dari sekolah ke Bank.
Tetapi, hari ini, letih dan jerih payah yang kurasakan demi
menabung ke Bank akan segera menuaikan hasil.
Ah, ya.. Sudah setahun rupanya aku rutin menabung dan hari ini
adalah waktu jatuh tempo dimana tabungan berjangka yang aku buat satu tahun
lalu bisa dicairkan. Sudah Rp1 juta belum, ya, jumlahnya? Sembari menunggu
angkutan umum, aku mulai berhitung dan menerka-nerka apa hasil tabunganku itu bisa
mencapai target senilai Rp1 juta atau tidak. Aku sangat tidak sabar juga
bersemangat.
*********
Bank, Kota PangkalPinang
“Total tabungannya ada Rp825
ribu” kata teller bank usai aku memberikan buku tabungan kepadanya.
“Totalnya tidak Rp1 juta? Bukannya
ada bunga, ya?” tanyaku dengan muka terkejut. Keringat masih membanjiri dahi
dan juga seragam sekolahku. Setelah bel pulang sekolah, aku langsung berlari ke
Bank saking semangatnya.
“Iya, total tabungan Rp780
ribu ditambah dengan bunga jumlahnya menjadi Rp825 ribu”
“Hmm, begitu, ya.. Ya,
sudah, Bu.. Saya ambil semua uangnya”
Aku berusaha tersenyum. Ternyata totalnya tidak cukup. Tidak,
apa-apa... Aku bisa kejar target untuk menabung lagi agar tabunganku genap
berjumlah Rp1 juta. Atau, uang tabungan ini bisa kugunakan untuk membeli sepatu
Putri terlebih dulu agar ia tidak kecewa.
“Ini, totalnya Rp825 ribu
ya” teller bank memberikan sejumlah uang yang tadi disebutkannya padaku.
“Baik. Terima kasih”
Aku bergegas keluar dari Bank.
“Oh, ya, tunggu sebentar,
Dik. Ada informasi tambahan”
Teller bank tadi memanggilku.
“Ada apa, Bu?”
“Adik menjadi salah satu
nasabah yang aktif menabung selama satu tahun. Oleh karena itu, Adik
berkesempatan menerima hadiah dari program ‘AYO MENABUNG’ dan bisa memilih satu
diantara 3 paket hadiah yang akan diberikan. Pertama, paket alat-alat memasak,
kedua, paket bingkisan perlengkapan sekolah, ketiga, paket bingkisan
sembako"
“Oh, begitu..” sahutku tidak
tertarik.
“Paket alat-alat masak
terdiri dari penggorengan, sendok kayu, panci. Paket bingkisan perlengkapan sekolah
terdiri dari buku tulis dan sepatu, kemudian ketiga—“
Mataku terbelalak. “Apa, Bu? Ada sepatu?”
Aku memotong omongan teller tersebut, seketika sangat antusias.
“Iya, satu pasang sepatu
sekolah. Hadiahnya bisa dipilih sekarang dan bisa diambil hari ini juga”
“Saya pilih paket kedua!”
Air mataku tidak dapat terbendung lagi. Aku keluar dari pintu
gerbang Bank dengan mata berkaca-kaca. Aku tak henti-hentinya mengucapkan rasa
syukur. Kabar mengejutkan itu membuat hatiku terasa bahagia bercampur haru. Meskipun
aku mendapat sepatuku dengan cara lain, tapi aku sangat bersyukur. Tak pernah
terpikir olehku kalau hadiah menabung bisa melebihi ekspektasi. Padahal, aku
hanya ingin mendapatkan uang Rp1 juta dari tabunganku agar bisa membeli dua
pasang sepatu, tapi aku mendapatkan lebih. Bahkan, uang tabunganku yang tadinya
kurang itu malah jadi bersisa.
Tiba-tiba ingatan satu tahun lalu terbesit dalam benak. Hari
ketika aku memutuskan untuk mulai menabung di Bank dari yang sebelumnya hanya
menabung lewat celengan ayam karena sebuah keinginan kecil adikku dan aku, yang
kini keinginan itu telah berada dalam genggaman. Ini semua karena aku menabung.
Ya, karena itu aku bisa beruntung. Keputusanku menabung di Bank memang sudah tepat.
Aku buru-buru pulang ke rumah dengan menenteng plastik berisi perlengkapan
sekolah, juga sepatu sekolah baru milikku dan uang tabungan untuk mengajak
Putri membeli sepatu impiannya.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan Lembaga Penjamin Simpanan bertema "Inspirasi Menabung" dan mendapat juara favorit 3"
#LOMBALPS #AYOMENABUNG
Wah ini inspiratif sekali. Btw jauh sekali ya lokasi ke Bank dari rumah, 2019 km. Kalo di tempat saya dari Jogja ke Purwokerto, jauh banget. Tapi keren sekali ceritanya, selamat ya atas kemenanganya
BalasHapus