Move on. Iya atau Tidak?

Kira-kira apa yang langsung terbayangkan dipikiran kalian kalo denger kata Move On?

>> Move on? Ya harus, lah! Ngapain kita masih terjebak masa lalu?

>> Move on itu hal yang sulit banget dilakuin. Gak bisa segampang itu!

>> Susah move on adalah hal terbodoh sepanjang masa.

>> Gue paling gak bisa dengan cepat lupain orang. Apalagi orang yang pernah berarti di hidup gue..

Daaaan... masih banyak pendapat-pendapat pro dan kontra lainnya. Sebenernya apasih move on? Seberapa pentingkah move on di dalam hidup yang seharusnya meriah ini? 

Move on atau Moving On artinya Berpindah. Istilah ini sering dipake untuk seseorang yang abis kehilangan seseorang, trus galau banget, trus temen-temennya kompak bilang "Move On, Coy!" atau dipake untuk seseorang yang abis kehilangan seseorang, tapi langsung punya seseorang yang baru, trus temen-temennya kompak bilang "Cie yang udah Move On!"

...............agak serba salah.

Bagi sebagian orang mungkin gampang ngelakuinnya, tapi ada juga yang susah move on banget. Mereka sering disebut SuMo alias (Susah Move On). Bilangnya sih, SuMo karna dia yang paling baik lah, udah terlanjur sayang banget lah. Emang susah kalo urusan sama hati. Pasti apa-apa ribet. Bener gak? Kayak satu cerita yang baru aja gue alamin. Eh! Salah salah, maksudnya baru aja gue saksikan.

Mereka adalah temen deket gue. Jadi ceritanya, mereka berdua mengalami cinta pada pandangan pertama semenjak masuk kuliah. Sebut saja si cewe Caca dan si cowo Gilang (nama disamarkan). Nah, si Gilang ini sekelas sama gue. Gilang emang orangnya good looking. Banyak cewe-cewe yang suka sama dia di kelas maupun di kampus. Ditambah doi pinter. Jadilah "cowo siap digebet".
Nah, kalo si Caca, dia satu geng sama gue. Kemana-mana selalu bareng. Bedanya cuman gak sekelas doang. Si Caca nih kerjaannya tiada hari tanpa ngomongin dan nanyain Gilang. Caca juga orangnya good looking plus cewe aktivis. Banyak juga yang ngejar-ngejar Caca. Tapi Caca cuman tertarik sama Gilang. Gue masih inget banget dia curhatnya kayak gini, "Gue tuh sering tatap-tatapan mata sama dia waktu ospek" "Kok dia ngeliat gue beda ya?" "Aduhhh, gue gak bisa stop mikirin dia nih!" dan curhat-curhat kesemsem lainnya.

Suatu hari, Gilang yang pembawaanya cool dan susah ditebak ini minta nomer teleponnya Caca. Bilangnya sih karna pengen nanyain tugas. Kecurigaan pun muncul. Awalnya emang nanyain tugas, tapi lama-lama nanyain "lagi ngapain?" "udah makan belom?" "udah punya pacar ya?" "weekend ada waktu gak?" Dan benar aja. Beberapa minggu kemudian mereka pun jadian. Sontak semuanya terkejut. Ternyata oh ternyata, Gilang juga udah suka sama Caca semenjak mereka pertama kali ketemu. Mungkin karna ke-good looking-an mereka yang membuat mereka berdua bersatu.

Awal-awal jadian, mereka menjadi salah satu pasangan ter-sweet yang pernah gue kenal. Otp-an sampe 6 jam, saling ngasih surprise-surprise kecil, dijemput kesana kemari. Bener-bener bikin iri. Sampai akhirnya mereka menginjak bulan ke-empat. Disinilah konflik dimulai. Mereka sering berantem karna kesibukan masing-masing. Caca yang seorang aktivis kampus dan Gilang yang seorang Kuliah sambil Kerja. Mereka jadi jarang punya waktu bareng dan hal ini menjadi masalah, terutama masalah buat Gilang. Gilang selalu mengeluh karna Caca terlalu sibuk dengan organisasinya di kampus. Padahal, cuma kampus tempat mereka bisa bertemu. Dan tiba-tiba.. Jeng.. Jeng.. Gilang akhirnya memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka. But, they are still loving each other. Masih telfon-telfonan, chatting, dan nanyain kabar. Semenjak saat itulah Caca mulai mengidap sindrom SuMo.

Dua tahun kemudian, musibah bagi Caca terjadi. Gilang nikah karna dijodohin orang tuanya. Caca pun nangis gak karuan. Gak bisa dipungkiri memang Caca masih berharap. Gilang yang tadinya selalu nanyain kabar Caca, tiba-tiba berhenti karna kesibukannya di dunia kerja. Gilang juga sempet ambil cuti kuliah setahun. Disaat Cuti itu, Caca tetep mikirin Gilang. Berita bahwa Gilang nikah adalah pukulan terberat buat Caca. Gak ada hari tanpa nangis sesegukan. Yaa begitulah alasannya, "ga ada yang lebih baik dari dia".

So, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian. Sebenernya itu semua cuma mindset. Coba kalo mikirnya diganti jadi "Gue gak berjodoh sama dia karna dia bukan orang yang baik buat gue". Pasti ngejalaninnya bakalan ikhlas dan lebih mudah. Jadiin kehilangan sebagai sarana untuk melatih diri menjadi sosok yang dewasa dan kuat, bukannya malah diratapi. Apasih untungnya gak move on? Toh malah nyakitin diri sendiri. Kalo ada yang bilang susah, okey, I get it. Tapi jangan berlarut-larut susahnya. Lo cuman gamau nyoba doang kok untuk sesuatu hal yang baru. Inget, Hidup ini cuma sekali, sayang-sayang kalo gak dijalani dengan meriah.

"Maybe that you dislike a thing which is good for you and that you like a thing which is bad for you. Allah knows but you don't know." ( Al Baqarah : 216 ) dan kalo kata pepatah, "Kadang kamu harus melepaskan sesuatu yang tak pernah bisa jadi milikmu agar kamu punya ruang untuk sesuatu yang memang milikmu."

Jadi, menurut gue, Move On itu IYA malah WAJIB IYA!

And this is for you, baby. Sahabat gue yang lagi sedih banget, katanye. Dan semua orang yang masih ragu untuk move on. Please, don't crying anymore. You can't simply forget the past. The past is there and it won't go away. You have to learn from it to make sure it doesn't reoccur again. REMEMBER! God wrote your love story. Let Him read it to you. He will bring in the perfect one at the perfect time.


Komentar

Postingan Populer