Aku ingin, Karena...
Keinginan juga membuat seseorang menghargai kehadirannya didunia. Kenapa? Cobalah jawab pertanyaan yang satu ini;
Pada suatu hari, A dan B sedang bermain bersama. Saat mereka sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba perut mereka keroncongan. Mereka lapar. Kemudian, mereka pun menghentikan permainan sejenak dan berjalan menuju dapur untuk membuat makanan. Ketika mereka sampai, mereka lekas membuka kulkas dan melihat-lihat apa yang bisa disulap menjadi makanan yang lezat. Betapa terkejutnya mereka karena ternyata kulkas tersebut kosong melompong. Tidak ada bahan makanan sama sekali disana. Mereka pun tidak bisa membuat makanan apa-apa.
Jadi pertanyaannya adalah.. Apa yang sebaiknya A dan B lakukan? Membeli makanan diluar atau diam di tempat dan berharap laparnya hilang?
Kalo jawabannya membeli makanan, berarti kalian sudah menghargai kehadiran kalian didunia ini karena memiliki "KEINGINAN" untuk tidak merasa lapar kembali. Kalo jawabannya diam di tempat dan berharap laparnya hilang.. Hm.. Seriously? Tahan gak? Tahan sampe kapan? Gak takut mati kelaperan? Yang ada malah masuk angin sama lumutan nungguin keajaiban laparnya hilang.
So, menghargai kehadiran diri didunia ternyata sangat simple yaitu berusaha untuk terus memberikan nutrisi ke dalam tubuh.
Menurut gue, ada satu jenis keinginan yang paling sulit. Dia adalah menentukan keinginan di masa depan. Banyak orang yang terombang-ambing diantara pilihan-pilihan keinginannya dimasa depan. Gue juga merasakan hal yang sama. Tapi gue sempet ragu. Ngapain coba pusing-pusing mikirin keinginan masa depan? Toh, keinginan ini pun hanya keinginan duniawi yang gak akan pernah abadi. Dan setelah dipikir-pikir lagi.. Pada kenyataannya hidup harus terus berjalan. Berusaha adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Hal ini akan terus menerus terjadi, sampai pada akhirnya nanti takdir sendiri yang mengharuskan kita untuk berhenti berusaha yaitu kembali kepada Sang Pencipta.
Oleh karena itu, keinginan tanpa diiringi dengan motivasi dan komitmen adalah suatu hal yang mustahil. Motivasi seperti pedoman keinginan yang mengingatkan sedangkan komitmen seperti janji yang menguatkan. Kalo gak punya komitmen yaa.. siap-siap terbawa arus, kadang semangat kadang males-malesan. Mudah sebenernya nentuin motivasi dan komitmen. Caranya adalah tetapkan untuk apa dilaksanakannya keinginan tersebut sejak awal. Misalnya;
"Gue ingin menjadi penulis karena; Pertama, sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup yang amat sangat indah buat gue dengan cara berkarya di dunia sebelum kembali ke akhirat. Kedua, sebagai hadiah untuk orang tua atas semua peluh yang tercurah ketika membesarkan, mendidik, menyayangi, mencintai, menjaga dan melindungi gue."
The last.. What do you want, now?


Komentar
Posting Komentar