Aku dekat, tetapi dia pergi.


Hari ini ukiran khayalan-khayalan indahku seperti terasa sirna begitu saja. Aku tepat berada dihadapannya, juga wanita itu. Hatiku hancur berkeping-keping bentuknya. Aku meyakinkan diri, apakah ini yang namanya jatuh cinta? Tetapi kenapa cinta yang sangat menawan ini tega membuatku berduka? Pria yang dengan sekejap dapat mencuri perasaan serta perhatianku, telah sukses membuatku tidak berdaya. Seketika ingatanku kembali pada hari itu, hari dimana ia mengucapkan janjinya padaku.

"Aku janji, aku akan move on dari dia. Aku akan berusaha nyaman berada didekat kamu. Aku akan timbulkan rasa cinta itu. Demi kamu. Demi cerita kita."

Kata-kata itu keluar setelah aku berusaha meyakinkannya bahwa akulah orang yang tepat. Akulah orang yang dapat menggantikan cintanya yang dulu. Aku terlalu terlena dengan kehadirannya yang begitu mempesona. Pandangan pertama di Masa Orientasi Mahasiswa Baru, telah membuatku lupa bahwa waktu tidak akan pernah menghalangi cinta yang timbul secara tiba-tiba. Kenyataan membawaku kepada sesuatu yang pahit. Cinta pada pandangan pertamaku masih terjebak dengan masa lalunya. Hari demi hari kulalui. Anehnya, dia bertindak seolah-olah aku memang pantas menjadi wanitanya. Perhatiannya, kasih sayangnya, membuatku merasa bahagia dan spesial bila didekatnya. Aku pun akhirnya memilih untuk mempertahankannya meski hal mengganjal itu seperti sulit dihilangkan keberadaannya. Begitu banyak kata dan rencana yang terucap, seketika lenyap begitu aku melihat pemandangan menyakitkan setelah Tuhan izinkan untuk aku menyaksikannya.

Betapa bodohnya karna aku percaya. Betapa bodohnya karna dengan sangat cepatnya, aku begitu menyayangi pria yang jelas-jelas tidak dapat menghargai kehadiran seseorang yang dengan siap menjadi penawar rasa sakit dihatinya. Usaha yang kulakukan, sia-sia belaka. Aku dibuatnya tidak lebih dari sebutir obat yang tak ada nilai dan harganya. Aku merasa bersalah, apakah aku yang berdusta?

Aku dekat, tetapi dia pergi. Kini, dia telah kembali kepelukkan cintanya yang lama, cinta yang telah membuat ia usang, tetapi juga cinta yang membuat dia membara. Pada akhirnya pun dia juga telah membuat pilihannya. Peristiwa ini membuatku menyadari, bahwa sang waktu sangatlah menentukan arti kedatangan cinta. Cinta bukanlah sesuatu hal yang dilakukan secara terpaksa, bukan juga sesuatu hal yang dirancang maupun direkayasa. Tetapi cinta, timbul dengan sendirinya, Mengalir seperti air, tumbuh seperti bunga, bertahan seperti tembok raksasa. Dan cinta pertamaku, cinta yang kurasa adalah cinta yang terbaik dan cinta yang kucari, dapatlah pergi jika Tuhan tidak mengkehendaki.

Aku berada pada realitasnya. Tidak ada hari lagi yang kulalui untuk meyakinkan akan hadirku dihidupnya. Sakit dihatiku kubiasakan pulih, dan memang begitulah harusnya.

flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di facebook dan twitter @nulisbuku

Komentar

Postingan Populer