Al-Qur'an Bukan Alat Wujudkan Kekuasaan
Gua bukan orang politik, sekali lagi, gua bukan orang politik, aktivis politik, aktor politik atau orang yang memiliki kepentingan untuk meraih tujuan politik. Gua disini cuman berbicara tentang keluh kesah gua juga hal yang gua sesalkan tentang Pilkada DKI Jakarta yang kebetulan sedang berlangsung hari ini.
By the way, sudah pukul 10.48 WIB, tapi gua belum berniat beranjak untuk mengunjungi TPS. Sejujurnya, gua masih gatau siapa pemimpin yang pantas untuk gua pilih. Well, gua rasa ini semua berkat kekuatan isu, tudingan, agenda setting, opini yang sukses mengkonstruk pikiran gua hingga gua sekarang berada di titik puncak dilema menghadapi Pilkada DKI Jakarta 2017.
Salah satu isu yang saat ini mengganggu batin dan pikiran gua ialah mengenai "Muslim Tidak Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim Berdasarkan Perintah Al-Qur'an". Sejujurnya, picik bagi mereka yang menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk kepentingan politik. Ini yang gua sesalkan. Seakan-akan mereka menghalalkan segala cara agar mendapatkan tujuan kekuasaan.
Dari hati kecil gua yang paling dalam, gua rasa Allah SWT tidak sejahat itu. Islam agama yang dipenuhi rahmat, kasih sayang dan keadilan. Nabi Muhammad mengajarkan umatnya untuk berbuat adil terhadap sesama. Bahkan, adil pun menjadi salah satu dari 99 sifat-sifat Allah atau Asmaul Husna yakni Al-'Adl. Tapi realita yang saat ini terjadi, apakah bisa disebut adil, bila orang-orang itu menggembar-geborkan opininya untuk memilih pemimpin berdasar pada agama dan bukan pada kesungguhan niat membangun negara?

Ironi memang. Disaat ada pihak yang berbangga tinggal di negara ber-Bhinneka Tunggal Ika, tapi pikirannya terbelenggu oleh isu SARA.
Rasa ego pun akhirnya muncul; mengutamakan agamanya masing-masing. Tiada sempat perilaku terpuji terlihat. Sebaliknya, saling hujat menghujat semakin tak terelekkan, menjelek-jelekan agama selainnya, hingga meng-claim kebenaran agamanya. "Agamaku adalah agama yang paling benar!" katanya. Apa begitukah? Tapi mengapa arti dari surat Al-Kafirun ayat 6 berbunyi "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"?
Gua gak berpihak pada salah satu calon. Sejujurnya gua pun amat sangat tidak suka dengan pemimpin yang arogan dan kasar lisannya. Yang gua harapkan adalah pemimpin yang kerja nyata untuk rakyat. Gak banyak omong, gak banyak tebar janji pake muka watados. Alias wajah tanpa dosa. Gua apresiasi seluruh calon kandidat. Mereka punya niat yang baik dan gua yakin tulus ingin membawa sebuah perubahan.
Kembali lagi pada ayat Al Qur'an yang melarang memilih pemimpin non muslim. Gua gak menyalahkan isi dan kandungan kitab suci yang sangat gua puja dan syukuri ini. Gua takut kena azab karena berani amat menentang kitab sendiri. Naudzubillahiminzalik. Tapi, Dibalik semua ini, Gua meyakini satu hal bahwa semua peristiwa yang terjadi sekarang sudah diatur oleh-Nya. Ada sebuah hikmah terpendam tersimpan dan akan diketahui pada waktunya. Manusia mah gak berhak untuk saling asal menuduh, menjatuhkan, menindas. Gua ga berani berpikir macam-macam, apalagi menafsirkan Al-Qur'an secara kehendak diri sendiri. Sesungguhnya, hanya Allah yang maha mengetahui segalanya.
Gua cinta agama gua dan gua juga cinta negara gua. Gua pengen yang terbaik untuk keduanya. Tolong, Jangan atas namakan Al-Qur'an ku sebagai alat perwujudan kekuasaan.
By the way, sudah pukul 10.48 WIB, tapi gua belum berniat beranjak untuk mengunjungi TPS. Sejujurnya, gua masih gatau siapa pemimpin yang pantas untuk gua pilih. Well, gua rasa ini semua berkat kekuatan isu, tudingan, agenda setting, opini yang sukses mengkonstruk pikiran gua hingga gua sekarang berada di titik puncak dilema menghadapi Pilkada DKI Jakarta 2017.
Salah satu isu yang saat ini mengganggu batin dan pikiran gua ialah mengenai "Muslim Tidak Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim Berdasarkan Perintah Al-Qur'an". Sejujurnya, picik bagi mereka yang menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk kepentingan politik. Ini yang gua sesalkan. Seakan-akan mereka menghalalkan segala cara agar mendapatkan tujuan kekuasaan.
Dari hati kecil gua yang paling dalam, gua rasa Allah SWT tidak sejahat itu. Islam agama yang dipenuhi rahmat, kasih sayang dan keadilan. Nabi Muhammad mengajarkan umatnya untuk berbuat adil terhadap sesama. Bahkan, adil pun menjadi salah satu dari 99 sifat-sifat Allah atau Asmaul Husna yakni Al-'Adl. Tapi realita yang saat ini terjadi, apakah bisa disebut adil, bila orang-orang itu menggembar-geborkan opininya untuk memilih pemimpin berdasar pada agama dan bukan pada kesungguhan niat membangun negara?
Ironi memang. Disaat ada pihak yang berbangga tinggal di negara ber-Bhinneka Tunggal Ika, tapi pikirannya terbelenggu oleh isu SARA.
Rasa ego pun akhirnya muncul; mengutamakan agamanya masing-masing. Tiada sempat perilaku terpuji terlihat. Sebaliknya, saling hujat menghujat semakin tak terelekkan, menjelek-jelekan agama selainnya, hingga meng-claim kebenaran agamanya. "Agamaku adalah agama yang paling benar!" katanya. Apa begitukah? Tapi mengapa arti dari surat Al-Kafirun ayat 6 berbunyi "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"?
Gua gak berpihak pada salah satu calon. Sejujurnya gua pun amat sangat tidak suka dengan pemimpin yang arogan dan kasar lisannya. Yang gua harapkan adalah pemimpin yang kerja nyata untuk rakyat. Gak banyak omong, gak banyak tebar janji pake muka watados. Alias wajah tanpa dosa. Gua apresiasi seluruh calon kandidat. Mereka punya niat yang baik dan gua yakin tulus ingin membawa sebuah perubahan.
Kembali lagi pada ayat Al Qur'an yang melarang memilih pemimpin non muslim. Gua gak menyalahkan isi dan kandungan kitab suci yang sangat gua puja dan syukuri ini. Gua takut kena azab karena berani amat menentang kitab sendiri. Naudzubillahiminzalik. Tapi, Dibalik semua ini, Gua meyakini satu hal bahwa semua peristiwa yang terjadi sekarang sudah diatur oleh-Nya. Ada sebuah hikmah terpendam tersimpan dan akan diketahui pada waktunya. Manusia mah gak berhak untuk saling asal menuduh, menjatuhkan, menindas. Gua ga berani berpikir macam-macam, apalagi menafsirkan Al-Qur'an secara kehendak diri sendiri. Sesungguhnya, hanya Allah yang maha mengetahui segalanya.
Gua cinta agama gua dan gua juga cinta negara gua. Gua pengen yang terbaik untuk keduanya. Tolong, Jangan atas namakan Al-Qur'an ku sebagai alat perwujudan kekuasaan.
Komentar
Posting Komentar