Buku Berat Dibawa Berat Dibaca



Entah mengapa sekarang Saya menjadi orang yang sering berpikir keras. Pada dasarnya memang manusia diberi kemampuan pikiran agar mendapat solusi dari sebuah masalah. Tapi, masalahnya, saya belum tau apa sesungguhnya masalah yang sedang Saya pikirkan. Saya rasa, saya tidak punya masalah, kok, tapi kenapa beratttt sekali kepala kalau diajak berjalan ke depan.

Beberapa hari ini Saya sedang melakukan upaya membaca buku-buku "berat". Jumlahnya bisa mencapai 400 sampai 600 halaman dan banyak kata yang mengharuskan Saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mencari artinya. Buku itu berat dibawa dan berat di baca, ungkap Saya dalam hati.

Lingkungan masyarakat secara tidak langsung membentuk Saya menerima sesuatu yang berat-berat saat ini. Tujuannya hanya satu. Saya tidak ingin ditempatkan dalam tingkat paling rendah kelas sosial masyarakat versi Saya. Lagi, lagi, perihal mengenai tuntutan untuk bertahan hidup dan diakui oleh lingkungan. Sedikit gambaran, stratifikasi yang saya buat itu meliputi tiga golongan;
1. Golongan berhasil
2. Golongan berusaha
3. dan golongan tidak berhasil

Saya-dengan percaya diri-menempatkan diri di nomor kedua. Dan kelas sosial versi Saya ini, Saya anggap golongan tidak berhasil menjadi si paling rendah. Menjadi tidak diakui, tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, tidak punya teman, tidak punya keahlian, tidak punya pacar... Rasa kepercayaan diri Saya secara angkuh menolak untuk menduduki posisi itu. Enak aja, Gue mah lagi usaha!

Tapi, ternyata godaan datang silih berganti tanpa permisi. Mosok, baru baca 10 menit, molornya 30 menit. Malu! Malu! Malu! Malu sama kucing yang tiap hari mikir "mao nyari ikan dimane lagi ni"?


Ada tantangan besar dibalik buku-buku "berat" yang Saya baca. Lawannya gak tanggung-tanggung. Ngantuk, nguap, ngantuk lagi, nguap lagi. Gak sesekali ajakan memasuki zona nyaman itu muncul. Ajakan seperti "Ngerjain yang gua suka aja deh!", hampir 3x dalam sehari merasuki otak Saya. Gak bisa berpikir jernih dan kurang oksigen pun menghampiri. Sesak!

Well, Saya rasa, sekarang sedang menjalani dinamika. Disaat batin, keinginan dan keharusan secara ekstrim saling bertabrakan. Namun, masalahnya ialah, Saya sangat tidak percaya dengan ungkapan "Buku Jendela Ilmu". Saya tidak ingin termakan dengan kata-kata hoax yang belum teruji kebenarannya. Maka dari itu, Saya akan tetap membaca Buku Berat Dibawa Berat Dibaca sampai tuntas!

Eh, jadi Saya akhirnya punya masalah? (re: masalahnya ialah)
^,^

Komentar

Postingan Populer