Diawali dengan sebuah kertas.
Cerita dimulai saat gue duduk di kelas 3 SD. Gue seneng banget kalo ngeliat buku-buku kecil. Buku apapun yang penting buku dan bisa ditulis. Tukang-tukang jualan didepan sekolah gue pun seperti ikut mendukung kesukaan gue akan lembaran kertas. Mereka berbondong-bondong menjual aneka ragam kertas binder yang gambarnya lucu-lucu. Gue sempet maniak sama kertas-kertas yang waktu itu kita sebut "kertas file", apalagi kertas file yang gambarnya Princess Disney dan warnanya Pink. Gue selalu menyisakan uang saku gue yang cuman 1500 perak untuk beli kertas-kertas itu. Kalo uangnya terlanjur abis buat beli jajan, gue sering maksa nyokap buat beliin.
Entah dapet ilham dan wahyu darimana, sejak saat itu gue mulai sering menulis diary. Buku-buku kecil dan kertas file yang gue koleksi pun gue berdayakan untuk menulis. Tiada hari yang terlewati tanpa menulis, menulis dan menulis. Menurut gue dengan menulis diary, gue bisa merasa lega karna semua emosi gue bisa tercurahkan disitu. Mulai dari perasaan senang, sedih, marah, takut, sampai keinginan gue seakan-akan terekam dalam tulisan. Gue bisa memaknai arti kehidupan lewat "Buku Diary".
Semangat menulis pun bertambah ketika gue mengidap sindrom Cinta Monyet. Gue naksir sama temen sekelas gue. Buku Diary gue mulai dipenuhi dengan cerita-cerita bernuansa jatuh cinta. Puisi-puisi gue tulis beratas namakan dirinya. Si lincah berinisial A, Almarhum. Yang gue rasa bahwa dialah cinta pertama gue. Dia membuat hari-hari gue lebih merah muda, ceria, dan bergairah. Perasaan ini semakin memuncak seiring berjalannya waktu. Tetapi apa daya? Seorang introvert dan terlalu sering mengungkapkan isi hati diatas kertas diary, seperti tidak tahu harus melakukan apa. Gue hanya dapat menikmati rasa itu dalam diam.
Tiba-tiba.. Pikiran gue tertuju pada kertas-kertas itu. Terlintas di benak gue untuk menulis sebuah surat yang berisikan ungkapan perasaan gue ke dia. Tanpa berpikir panjang, gue merangkai kata demi kata diatas kertas berwarna putih. Gue biarkan tangan gue leluasa berjalan apa adanya.
Hari itu, gue beranikan diri meletakkan sepucuk surat beramplop merah muda didalam tasnya. Berharap bahwa kepolosan yang gue lakukan adalah benar. Dan keesokan harinya.. Dia tersenyum ketika kita berpapasan. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Surat itu menjadi awal kedekatan gue dengan dia, persahabatan yang manis.
Ternyata, tulisan adalah solusi masalah yang gue hadapi.
Awalnya gue pikir, kebiasaan gue menulis cuman hobi aja. Hobi yang kalo gue lakuin tuh bakalan bikin gue ngerasa seneng dan lega. Tiap hari ga ada hari yang gue lewatin tanpa nulis diary, nulis puisi. Rasanya tuh seneng liat tulisan gue sendiri, seneng liat gue ibarat sastrawan atau penulis gitu bisa mengarang cerita bahkan sampai puisi. Sampe sekarang, hampir bertumpuk-tumpuk buku diary yang gue punya dirumah. Diawali dengan sebuah kertas. Dan mungkin, inilah awal kecil yang gue yakin akan berujung besar. Someday.. Aamin Yarobal Alamin.
Komentar
Posting Komentar