Salma: "Aku cuman mau dingertiin Keluarga."


Jakarta - Ayu.com

"Aku cuman pengen dingertiin aja kok, itu udah cukup." jelasnya.



Siang hari kemarin (Jumat 16/10/10) akhirnya, putri pertama dari pasangan bapak Farid (45) dan Ibu Astri (44) menginjakan kaki dikediamannya kembali setelah 30 hari tidak kunjung pulang kerumah. Kejadian ini sempat membuat heboh warga di seluruh kawasan depok dan sekitarnya karna Salma (16) diberitakan kabur dari rumahnya.

Saat diwawancarai kemarin, Salma bercerita panjang lebar tentang tujuan dan alasan mengapa dia kabur dari rumah. Tekanan yang ia dapatkan dari keluarga merupakan faktor utama pemicu niatnya yang amat berani itu.
"Minggu pertama, Aku nginep dirumah teman SMA ku. Minggu selanjutnya nginep Kos-kosan teman yang tidak jauh dari kampus. Aku begini karna Aku capek dijadiin bahan keegoisannya Kakek yang mau menang sendiri. Waktunya aku belajar dan mengerjakan tugas malah dipaksa kerja. Ngalah terus sama Kakek tapi ujung-ujungnya aku diusir dosen. Biarin aja Aku kabur, mereka nuntut aku ngertiin mereka tapi mereka gak pernah ngertiin Aku." ungkapnya.

Sejak duduk di kelas 1 SMA, dari ke-13 cucu Kakek Hasyim (60) yang juga Ayah dari Ibunda Salma, hanya Salmalah yang membantu Kakeknya bekerja di salah satu Bank ternama di Indonesia. Kerjanya antara lain, menghitung, mengetik, dan mereview ulang harga-harga peralatan rumah dinas yang ditinggali pegawai Bank tersebut. Pekerjaan yang tidak menjadi kesukaan Salma tapi malah menjadi suatu keharusan yang harus ia kerjakan di tengah-tengah perjalanan meraih citanya. "Gak masalah kerja sambil kuliah, apalagi bantuin Kakek sendiri. Tapi caranya itu yang Aku gak suka, selalu maksa dan harus selesai cepat tanpa mikirin kondisi Aku lagi up or down. Aku juga punya kegiatan dan tugas kampus yang seabrek. Kalo dipaksa terus malah susah bagi waktu dan banyak yang jadi keteteran."

Belajar kuat sejak kecil

Semenjak Salma berumur 5 tahun, Ayah Salma, mengidap penyakit kronis pada bagian syaraf otak sehingga membuat dia sulit berfikir jernih apalagi untuk menafkahi keluarga. Ibu Raras yang sampai sekarang berjuang mati-matian bekerja demi menafkahi Salma dan ketiga adiknya. Keluarga besar dari Bapak Farid sempat membantu biaya hidup keluarga Salma, tetapi hal itu hanya berjalan beberapa tahun. Sisanya, Ibunda Salma lah yang membanting tulang pagi hingga malam. Ibu Raras sering mendapat perlakuan tidak enak oleh Ayah serta Kakak-Kakak dari Bapak Farid. Keluarga besar Bapak Farid merupakan keluarga berada dan terpandang asal kota Minang, Sumatera Selatan. Mereka sering memarahi Ibu Raras dan menganggapnya seperti pembantu. Salma pun sering dibedakan dengan sepupunya yang lain oleh Kakek dari Ayahnya itu. Salma yang mulai mengerti hal ini hanya bisa diam dan pasrah atas apa yang terjadi, tetapi dia bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

Ibu Raras juga bekerja bersama Ayahnya atau Kakek dari Salma di bagian pengantar surat kerja dan speaking dengan atasan. Beliau sering menyuruh Ibu Raras dan Salma tanpa memikirkan kondisi dan keadaan mereka terlebih dahulu. Meski telah bekerja keras selama bertahun-tahun dengan kakeknya, Salma dan Ibunya hanya mendapatkan 10% dari total gaji yang didapatkan. "Yah, sudah, tidak apa-apa. Itung-itung nyenengi orang tua." ujar Ibu Raras ketika dimintai keterangannya tentang hal tersebut.

Sekarang Salma kuliah disalah satu Universitas ternama se-Indonesia. Dia berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu berkuliah di Universitas Favorit. Salma tumbuh menjadi gadis periang dan lucu, ia sering melontarkan banyolan-banyolan ringan yang membuat teman-temannya tertawa. Watak yang keras membuat dia sangat tidak suka mengeluh dan melihat orang disekitarnya manja. "Aku lebih bisa jadi diriku sendiri saat aku bersama teman-temanku. Kalau lagi sama keluarga apalagi keluarga besar, rasanya kayak lagi dipenjara." ujarnya dihadapan Ayah dan Ibunya.

Kekesalan Salma tak hanya berhenti sampai disitu. Adik pertamanya yang bernama Johan (14) terbiasa dimanja oleh Ayah dan Ibunya. Tingkah Johan yang tidak pernah menghormati orang tua membuat Salma sering marah sehingga mereka tidak pernah akur dirumah. Hal ini juga menjadi salah satu pemicu stress yang dialami Salma.

Takdir membawa Salma belajar menjadi sosok yang kuat dalam menjalani hidup. Pahitnya dicerca, dimaki, diinjak-injak, dan dihina oleh keluarga sendiri tanpa sebab sudah pernah ia jalani. Tapi hal itu tak membuatnya gentar dan menurunkan semangatnya untuk menjadi orang sukses.

"Gimana aku bisa bahagiain Ibu sama Ayah, kalo aku tertekan terus begini. Sekarang aku harus ambil sikap. Aku sudah besar. Aku udah capek mendem terus. Banyak juga yang aku sudah korbankan untuk orang lain, mulai dari tenaga, fisik sampe pikiran. Kini adalah waktu yang tepat untuk aku perbanyak ilmu sebagai penunjang cita-citaku kedepan karna aku mau jadi Ahli Gizi yang Handal." lanjutnya singkat kepada Wartawan seusai jumpa pers. (A)

Komentar

Postingan Populer