Cerpen; Bimbingan Skripsi Sehidup Semati (Part. 1)
Rian. Malam ini kamu kerumah saya. Kita rayakan terselesaikannya skripsimu.
Salam, Pak Guntoro.
Gue terbangun dengan mata terbelalak. Pak Guntoro??? Mimpi apa gue semalem dapet ajakan makan dari Dosen Pembimbing ngeselin yang doyan nyiksa Mahasiswa skripsian. Tanpa tersadar gue ngucek-ngucek mata sambil melotot-melotot hampir lima menit, berusaha meyakinkan diri. Ternyata benar, sms itu dikirim oleh Pak Guntoro, Dosen Pembimbing atau Dospem skripsi gue, Rian Dirgantara, Mahasiswa tingkat akhir jurusan Hukum salah satu Universitas di Jakarta. Haduh.. Cobaan apa lagi ini.. Perasaan gue mulai gaenak. Apa gue tolak aja ya? Tapi, kalau bukan karena dia, skripsi gue yang umurnya udah setahun itu gak bakalan kelar. Dengan muka masih setengah sadar ditambah berat hati, gue pun memutuskan untuk membalas pesannya.
Siap, Pak. Saya kesana sekitar jam 7 malam. Terima Kasih, Pak!
Jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Ah, akhirnya.. Gue bisa merasakan kembali nikmatnya 'Tidur Siang'. Sudah hampir setahun lebih ini gue terbelenggu skripsi yang entah mengapa banyak banget rintangannya. Mulai dari pending 3 bulan karena kerja, bolak balik ganti judul dan susah acc, sempet gak ngelanjutin karena males, ditambah harus berurusan dengan Pak Guntoro setiap saat. Hal yang paling memalukan sekaligus memilukan adalah disaat Dospem gue itu ngucapin 'Selamat ulang tahun skripsinya Rian' tepat di hari pertama kali gue bimbingan skripsi bareng dia. Yang bikin heran, kok dia bisa inget aja hari pertama kali gue bimbingan. Gue aja lupa..
Perjuangan skripsi mengantarkan gue berhasil membuat lembaran-lembaran itu menjadi satu karya sekarang, yang artinya adalah gue siap sidang. Wih, bahagianya bukan kepalang. Selain gue sadar bahwa sebentar lagi gue lulus dari dunia perkuliahan, gue juga bahagia bisa lepas dari si botak Guntoro! Ha ha ha.. Kalian boleh bilang gue Mahasiswa kurang ajar. Tapi kalau kalian jadi gue, mungkin kalian bakal merasakan hal yang sama. Sebenarnya, umur skripsi gue yang mencapai setahun itu tidak lepas dari campur tangan Pak Guntoro. Si bawel yang hobinya cerita tentang cinta pertamanya. Gimana gak sampe setahun kalau setiap bimbingan lebih banyak dengerin cerita Dosen daripada dengerin perbaikan skripsi. Sialnya, waktu temen-temen gue tau kalau Dospem gue Pak Guntoro, gue sampe dihadiahin bantal bentuk hati.
"Buat nemenin dengerin dongeng Guntoro's First Love. Kali aja bisa tiduran berdua disitu" kata sahabat gue, Aji, sekaligus pelaku pemberi bantal bentuk hati. Awas lo ji!
Pak Guntoro memang terkenal sebagai Dosen Hukum yang killer, perfeksionis, bawel, moody dan berhati hello kitty. Hampir setiap kali gue bimbingan, gue pasti kena dongeng my first love dari Pak Guntoro. Pria paruh baya ini mengaku gak bisa melupakan sosok perempuan bernama Yulia, cinta pertamanya waktu kuliah dulu. Namun, ternyata mereka tidak berjodoh. Selepas lulus Magister, Pak Guntoro menikahi perempuan lain, begitupun sebaliknya. Kadang, setiap kali selesai bercerita tentang Yulia, dia bisa berubah murung. Alhasil, skripsi gue yang jadi korbannya. Gak hanya itu, Pak Guntoro juga bisa berubah menjadi sosok yang super killer dan perfeksionis. Pernah suatu ketika, dia tiba-tiba gamau sama sekali nge-acc skripsi gue karena banyak kesalahan. Pak Guntoro mendapat gelar Professor di umurnya yang ke-45 tahun. Hal itu sebenernya menjadi keuntungan bagi gue supaya bisa menciptakan skripsi yang baik. Tapi.. Selain harapan tadi, gelar Pak Guntoro merupakan bumerang tersendiri buat gue. Karena saking kritisnya, dia pernah gamau sama sekali ngasih gue acc skripsi dan malah balik bilang gue males. Namun akhirnya gue berhasil melewati masa-masa kelam itu!
Perjuangan skripsi mengantarkan gue berhasil membuat lembaran-lembaran itu menjadi satu karya sekarang, yang artinya adalah gue siap sidang. Wih, bahagianya bukan kepalang. Selain gue sadar bahwa sebentar lagi gue lulus dari dunia perkuliahan, gue juga bahagia bisa lepas dari si botak Guntoro! Ha ha ha.. Kalian boleh bilang gue Mahasiswa kurang ajar. Tapi kalau kalian jadi gue, mungkin kalian bakal merasakan hal yang sama. Sebenarnya, umur skripsi gue yang mencapai setahun itu tidak lepas dari campur tangan Pak Guntoro. Si bawel yang hobinya cerita tentang cinta pertamanya. Gimana gak sampe setahun kalau setiap bimbingan lebih banyak dengerin cerita Dosen daripada dengerin perbaikan skripsi. Sialnya, waktu temen-temen gue tau kalau Dospem gue Pak Guntoro, gue sampe dihadiahin bantal bentuk hati.
"Buat nemenin dengerin dongeng Guntoro's First Love. Kali aja bisa tiduran berdua disitu" kata sahabat gue, Aji, sekaligus pelaku pemberi bantal bentuk hati. Awas lo ji!
Pak Guntoro memang terkenal sebagai Dosen Hukum yang killer, perfeksionis, bawel, moody dan berhati hello kitty. Hampir setiap kali gue bimbingan, gue pasti kena dongeng my first love dari Pak Guntoro. Pria paruh baya ini mengaku gak bisa melupakan sosok perempuan bernama Yulia, cinta pertamanya waktu kuliah dulu. Namun, ternyata mereka tidak berjodoh. Selepas lulus Magister, Pak Guntoro menikahi perempuan lain, begitupun sebaliknya. Kadang, setiap kali selesai bercerita tentang Yulia, dia bisa berubah murung. Alhasil, skripsi gue yang jadi korbannya. Gak hanya itu, Pak Guntoro juga bisa berubah menjadi sosok yang super killer dan perfeksionis. Pernah suatu ketika, dia tiba-tiba gamau sama sekali nge-acc skripsi gue karena banyak kesalahan. Pak Guntoro mendapat gelar Professor di umurnya yang ke-45 tahun. Hal itu sebenernya menjadi keuntungan bagi gue supaya bisa menciptakan skripsi yang baik. Tapi.. Selain harapan tadi, gelar Pak Guntoro merupakan bumerang tersendiri buat gue. Karena saking kritisnya, dia pernah gamau sama sekali ngasih gue acc skripsi dan malah balik bilang gue males. Namun akhirnya gue berhasil melewati masa-masa kelam itu!
Masih ada beberapa jam lagi untuk siap-siap menuju rumah Pak Guntoro. Gue pun membenamkan diri diatas kasur nyaman milik kamar tercinta dan terlelap kembali. Tanpa sadar, jam telah menunjukan pukul 18.30 WIB.
"Mampus gue!"
Gue menepok jidat dan langsung buru-buru masuk kamar mandi. Entah apa yang membuat gue semangat. Kali ini gue berniat amat tulus dari dalam hati yang terdalam untuk bertemu Pak Guntoro. Mungkin bakalan jadi hari terakhir gue mengobrol berdua dengannya. Karena setelah sidang nanti, gue bakalan sibuk menyiapkan diri mengikuti wisuda. Ya, itung-itung salam perpisahan dan ucapan terima kasih. Mau bagaimana pun, Pak Guntoro juga sudah membantu gue menyelesaikan skripsi. Meskipun disaat yang bersamaan, dia juga yang memberikan penderitaan skripsi itu buat gue.
Pukul. 19.15 WIB, gue berangkat dengan memakai T-Shirt abu-abu dibalut sweater dan celana jeans biru. Baiklah, selamat melaksanakan perpisahan dengan Pak Guntoro.
to be continued..
"Mampus gue!"
Gue menepok jidat dan langsung buru-buru masuk kamar mandi. Entah apa yang membuat gue semangat. Kali ini gue berniat amat tulus dari dalam hati yang terdalam untuk bertemu Pak Guntoro. Mungkin bakalan jadi hari terakhir gue mengobrol berdua dengannya. Karena setelah sidang nanti, gue bakalan sibuk menyiapkan diri mengikuti wisuda. Ya, itung-itung salam perpisahan dan ucapan terima kasih. Mau bagaimana pun, Pak Guntoro juga sudah membantu gue menyelesaikan skripsi. Meskipun disaat yang bersamaan, dia juga yang memberikan penderitaan skripsi itu buat gue.
Pukul. 19.15 WIB, gue berangkat dengan memakai T-Shirt abu-abu dibalut sweater dan celana jeans biru. Baiklah, selamat melaksanakan perpisahan dengan Pak Guntoro.
to be continued..
Komentar
Posting Komentar