Cerpen: Love will always find a way (Part. 2)
5 Tahun yang lalu..
“GUE GAK MAU TAU YA! LO HARUS PUTUS SAMA DIA!”
Teriakkan itu membuat semua mata di Foodcourt Mall melihat kearah suara berasal. Aku yang duduk beda dua meja dari tempat kejadian tidak kuasa untuk ikut memperhatikan. Seorang laki-laki, memakai kaos oblong hitam dan celana jeans sedang memarahi perempuan sebayaku. Ya pasti dia sebaya denganku karna dia memakai seragam SMA.
“KALO LO GAK PUTUS, GUE BUNUH TU ORANG!”
“Please, gue mohon jangan lakuin itu!”
“GUE UDAH CUKUP SABAR SAMA LO YA, CEWEK TOLOL! TUKANG SELINGKUH! BESOK PUTUS ATAU LO DENGER KABAR DIA MATI!”
Laki-laki itu pun meninggalkan Foodcourt. Wajahnya penuh amarah sampai membuat satpam enggan menegurnya. Tinggalah perempuan berseragam SMA yang masih duduk dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat. Suara isak tangisnya terdengar memenuhi ruangan. Tubuhnya membelakangiku sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Sebenarnya.. Aku merasa seperti mengenal suaranya. Tubuh, gerak-gerik, suara, dan rambutnya sangat familiar denganku. Tetapi, aku mengurungkan pikiran dan menganggapnya salah. Pasti salah. Tiba-tiba perempuan itu mengangkat tangan kearah waiters untuk membayar makanan, kemudian dia beranjak dari kursinya dan berbalik kearahku. Dan... Ternyata yang aku lihat seperti apa yang aku pikirkan. Perempuan itu adalah Dea. Pacar Sahabat karibku, Bayu, yang seminggu lagi genap merayakan Anniversary mereka yang ke 3 tahun. Kami saling bertatapan mata. Dia terlihat shock melihatku ada disana, sama sepertiku yang tidak berhenti melongo.
“DEA?”
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memanggilnya. Dea berbalik arah lagi seperti hendak menghindariku.
“Dea! Dea! Tunggu!” Panggilku.
Dea hanya melengos dan setengah berlari meninggalkan Foodcourt. Aku pun lekas mengejarnya dan akhirnya berhasil menarik tangannya.
“Dea? Ini Dea kan?” Dea hanya mengangguk tetapi tidak melihat kearahku, wajahnya menunduk. Aku meyakinkan diri kembali siapa yang aku lihat. Ya perempuan yang berdiri dihadapanku ini memang Dea, perempuan yang aku lihat sedang dimarahi oleh laki-laki bermulut kasar di Foodcourt tadi juga memang Dea.
“De.. Lo gapapa kan?” tanyaku. Aku tidak tega melihat linangan air mata yang masih membekas di pipinya. Dea hanya menggeleng lagi.
“Cowok tadi Kakak lo ya? Sabar ya, De. Kakak gue juga suka gitu. Marah-marah gatau tempat, tapi dia kayak gitu karna dia sayang kok sama kita, adiknya..”
“Dia pacar gue”
“Hah?! Maksud lo?!”
“Iya, dia cowok gue, kakak kelas gue waktu SMP. 1 Tahun lebih cepet jadiannya daripada Bayu. Udah puas keponya?”
Mataku terbelalak mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Seketika rasa simpatiku hilang dan berubah murka 360 derajat.
“De, lo gak becanda kan?”
“Heh, gue udah ngasih tau lo info penting trus lo malah bilang gue becanda. Bego!”
“Lo gila ya? Lo ngasih tau gue kayak gini dan santai banget. Lo udah jadiin Bayu selingkuhan! Lo pikir Bayu apaan sampe lo bisa seenaknya ke dia! Tega banget sih lo!”
“HAHAHA! Trus apa masalahnya sama lo? Emang lo siapanya Bayu? Mau ngaduin gue ke Bayu? Silahkan! Gue gak takut! Dia pasti lebih percaya sama gue dibanding lo! Minggir!”
Dea pun pergi meninggalkanku yang berdiri terpaku. Aku masih tidak mempercayai kejadian yang baru saja aku alami. Dea, orang yang selama ini aku kenal dengan sifat manis, pintar, dan juga penyayang ternyata bertolak belakang dengan apa yang aku lihat barusan. Aku pun tidak berpikir lama lagi untuk mengambil handphone dan mengetik sms.
Bay. Kita harus ketemu.
-------------------------------------------*---------------------------------------------*---------------------------------------
Setelah Ujian Nasional berakhir, aku memang jarang berkumpul dengan 5 sahabat karibku, Iput, Saskia, Ryan, Dafa, dan Bayu. Kami sedang disibukan dengan belajar, belajar dan belajar. Tidak ada waktu untuk berkumpul dan mengobrol sampai larut malam. Bertemu pun hanya disekolah dan tidak bisa berlama-lama karna masih harus belajar untuk test masuk Perguruan Tinggi. Begitulah perjanjiannya. Tidak ada bermain, berkumpul, mengobrol sampai semuanya mendapatkan Universitas yang diinginkan. Tetapi, hari ini aku ngotot ingin bertemu dengan Bayu. Sudah 15 menit aku berhadap-hadapan dengannya tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku.
-------------------------------------------*---------------------------------------------*---------------------------------------
Setelah Ujian Nasional berakhir, aku memang jarang berkumpul dengan 5 sahabat karibku, Iput, Saskia, Ryan, Dafa, dan Bayu. Kami sedang disibukan dengan belajar, belajar dan belajar. Tidak ada waktu untuk berkumpul dan mengobrol sampai larut malam. Bertemu pun hanya disekolah dan tidak bisa berlama-lama karna masih harus belajar untuk test masuk Perguruan Tinggi. Begitulah perjanjiannya. Tidak ada bermain, berkumpul, mengobrol sampai semuanya mendapatkan Universitas yang diinginkan. Tetapi, hari ini aku ngotot ingin bertemu dengan Bayu. Sudah 15 menit aku berhadap-hadapan dengannya tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku.
“Katanya mau ngomong. Udah 15 menit nih gue nungguin” ujar Bayu.
Jantungku berdegup kencang. Aku selalu begini setiap bertemu dengan Bayu. Apalagi sekarang hanya berdua. Serasa mau pingsan saja, pikirku. Ah, tidak boleh macam-macam. Aku harus fokus. Aku harus memberitahu Bayu secepatnya.
“Ja.. Jadi gini B..Bay...”
“Eeeeh.... Stop, stop, stop. Ngomongnya yang bener, Tania. M...Masa...G...gaga...gap...Be... Be...Begitu...S.... sih!”
“Ah! Lo becanda!”
“Hahaha, ya makanya ayo ngomong”
“Gue tadi ketemu sama Dea....” Aku pun menceritakan panjang lebar dan detail peristiwa beberapa jam yang lalu aku alami bersama Dea. Respon Bayu ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Benar yang dikatakan Dea. Bayu lebih percaya Dea dibanding aku.
“Gak mungkin lah, Ta. Seminggu lagi kita 3 tahun. Gue tau dia banget”
“Bayu, tolong percaya sama gue. Apa untungnya juga gue bohongin lo? Gue sahabat lo, gue cuman gamau lo kenapa-kenapa doang, Bay”
“Ga masuk akal, Ta. Dea gak mungkin ngelakuin itu”
“Bay, gue serius. Gue tadi bener-bener ngeliat Dea. Bahkan gue ngomong face to face sama dia. Gue denger sendiri dia dengan enaknya bilang kalo dia punya pacar setahun sebelum lo..”
“Ta. Mungkin lo salah liat orang. Dea sekarang lagi les, abis ini gue mau jemput dia ke tempat lesnya. Lagipula gue tau kok Dea sayang sama gue, gue pun sebaliknya. Hal itu udah cukup untuk ngebuat kita saling percaya. Tolong ya, Ta. Hubungan gue udah lama sama Dea. Gue gamau ada yang ngancurin gitu aja.”
Deg! Kata-kata itu dengan mudah meremukkan hatiku. Secara garis besar, Bayu menganggapku sebagai sesuatu yang menghancurkan hubungan mereka. Sejenak aku memalingkan wajahku dari Bayu. Air mata yang telah terbendung pun menetes. Aku buru-buru mengusapnya sebelum Bayu melihat. Menjadi sahabat Bayu adalah hal yang tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Pertemuan pertama kali dengannya ketika Masa Orientasi Siswa masih teringat sampai detik ini. Seketika aku langsung jatuh hati saat Bayu dengan konyol rela menemaniku di hukum karna tidak membawa makanan teka-teki. Pertemuan singkat itu membuat aku dan Bayu menjadi sering bercengkrama. Semuanya terasa begitu indah awalnya, hingga suatu hari Bayu bertemu dengan Dea. Perubahan pun terjadi dalam sekejap.
“Ta?”
“Ya” Aku memandangnya lagi
Aku tidak bisa melanjutkan percakapan sia-sia ini. Aku juga malas berdebat. Apalagi debat ini benar-benar mengiris hatiku. Aku pun memutuskan untuk menyudahinya.
“Ya udah. Gapapa kalo gamau percaya. Take care, Bay. Gue pamit”
“Loh. loh? Mau kemana?”
Aku beranjak pergi menuju pintu keluar Mall. Rasa sakit dihatiku berhasil menguasai diriku sepenuhnya. Aku pun berlari sekencang-kencangnya dan ternyata Bayu ikut mengejarku. Aku buru-buru memberhentikan dan masuk ke dalam Taksi yang kebetulan lewat didepanku. Aku menghiraukan Bayu mengetok-ngetok kaca Jendela meminta aku untuk turun.
“Pak, Jalan” ujarku kepada supir Taksi.
Taksi pun melaju meninggalkan Bayu. Air mataku tidak berhenti berlinangan. Aku masih bisa melihat Bayu berlalu pergi dari kaca spion dengan wajah cemas dan kebingungan. Melihatnya membuat hatiku semakin runtuh. Aku tidak menyangka kalau Bayu memang lebih mempercayai Dea dibanding aku.
Bay.. Gue gak mau lo kenapa-napa. Karna... Gue sayang sama lo, Bay.. Sayang banget.
..to be continued..
..to be continued..
Komentar
Posting Komentar