Kejar Setoran untuk Bayar Tagihan

Hasil gambar untuk anak jual koran

Kejar Setoran untuk Bayar Tagihan

Ayu Utami S
Ketika matahari hendak terbenam dari ufuknya di langit Ciputat, terlihat seorang anak laki-laki sedang menawarkan lembaran-lembaran koran dengan sangat sopan kepada Mahasiswa dan Mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kaos oranye di tubuhnya yang telah basah oleh keringat tidak menyurutkan kegigihannya untuk terus menawarkan tumpukan koran di dalam dekapan meski sinar mentari kian meredup.
Rupanya, Bayu Sahputra (12) harus mengejar target penjualan koran agar dapat membayar uang tagihan seragam sekolah sebesar Rp. 150.000 yang sudah ditunggaknya selama berbulan-bulan. Bayu diancam akan dikeluarkan dari sekolah jika tidak dapat melunasi seragam-seragam yang memang di fasilitasi sekolahnya itu.
“Bu Guru nanya, ‘Bayu, kapan kamu bayar uang seragam?’ Aku jawab ‘InsyaAllah hari Sabtu ya, Bu’. Abis itu Bu Guru bilang lagi ‘Besok Sabtu harus sudah lunas’. Yaudah sekarang aku lagi usahain,” ujar Bayu sambil menirukan percakapan dengan Gurunya disekolah.
Bocah kelahiran Jakarta, 13 Januari 2003 ini mulai berjualan koran sejak usia 5 tahun. Bayu adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ia tinggal di Kecamatan Pesanggerahan, Jakarta Selatan, bersama dengan Ibu kandung dan Ayah tirinya. Bayu harus mencari uang tambahan untuk membiayai dan membeli perlengkapan-perlengkapan sekolah seorang diri semenjak masuk Sekolah Dasar (SD) karena Ibunya tidak bekerja dan Ayah tirinya hanya bekerja serabutan.
 “Aku gak mungkin minta uang sama Bapak karna Bapak kerja serabutan. Aku malah suka dimarahin Bapak kalo aku minta uang buat bayaran sekolah. Ibu juga gak kerja. Makanya aku jualan koran aja,” ungkap bocah yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 178 Jakarta.
Jakarta Selatan menjadi lokasi dimana Bayu mengais rezeki, seperti Pondok Pinang, Deplu, hingga Pondok Indah. Seringkali, koran yang Bayu jual tidak laku hingga hari menjelang petang. Pendapatannya setiap hari pun tidak menentu. Selama 7 tahun berjualan, hasil jualan  tertinggi yang Bayu dapatkan sebesar Rp. 50.000. Hal tersebut sempat membuat Bayu lelah berjualan koran. Tetapi, semangat Bayu untuk sekolah mengalahkan rasa lelahnya karena Ia ingin meraih cita-citanya menjadi seorang Polisi.
Perjuangan Bayu membiayai sekolah sebagai penjual koran tidaklah mudah. Banyak suka dan duka yang harus Ia tempuh. Salah satu contohnya adalah disaat Bayu pernah beberapa kali tertabrak motor dan mobil ketika berjualan di jalan raya Ibukota. Beruntung, Bayu tidak sampai terluka parah.
“Ceritanya lagi nyebrang didaerah Deplu, tiba-tiba motor lewat ngebut dan aku ketabrak. Untung aku gapapa. Trus pernah nyebrang lagi didaerah Pondok Pinang, eh ada motor lagi ngebut, ketabrak lagi. Aku lecet tapi dia kepalanya bocor. Nah yang ketiga ketabrak mobil didaerah Pondok Indah. Lagi lampu merah, nah, aku jualan kan biasa samperin mobil-mobilnya, trus lampu ijo dan mobil didepan aku langsung tancep gas gitu kayak buru-buru. Akhirnya nabrak aku dan aku sampe masuk ke kolong mobil, tapi Alhamdullilah gak kenapa-napa, kepalanya aja luka,” ujarnya.
Bayu tidak pernah menuntut orang tuanya harus membayarkan atau membelikannya perlengkapan sekolah. Ia selalu berusaha agar tidak merepotkan kedua orang tuanya dan secara mandiri berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri. Bayu pun telah merancang harapan untuk masa depannya. Selain ingin menjadi Polisi, Ia juga memiliki cita-cita mulia yang hendak diberikan kepada kedua orang tuanya.

“Kalo udah gede nanti aku pengen beli rumah untuk orang tuaku. Terus kalau udah tercapai rumahnya, aku mau naik hajiin mereka,” ungkapnya dengan senyum sumringah.

Komentar

  1. ini kisah nyata yaa? kirain isi cerpen.. Semoga diberkati deh bocah itu

    BalasHapus
  2. Terharu banget bacanya, untungnya udh diterapin ya sekolah gratis, semoga ga ada lagi penderitaan "si bayu"... Sore tugu pancoran by iwan fals

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer