Cerpen: Love will always find a way (Part. 3)
5 tahun dan ternyata tidak ada yang berubah. Detakan, degupan, desiran dan rasa gugupku masih sama ketika aku bertemu dengan Bayu. Sosok yang selalu menginspirasiku dengan mimpi-mimpi masa depannya, caranya yang dewasa memandang kehidupan, kepribadiannya yang ceria dan berkharisma. Tidak ada yang bisa aku lupakan satupun hal-hal mengenai dirinya. Sekarang sosok itu telah berdiri lagi dihadapanku. Menjadi suntikkan semangatku yang telah lama luntur.
“Maksud lo apa, Bay?” tanyaku lagi
“Lo bener, Ta. Gue udah buta untuk menerima siapa Dea sebenernya. Semuanya kebongkar waktu gue di Australia”
Aku tidak kaget mendengar ucapan Bayu. Peristiwa 5 tahun lalu dengan Dea masih terekam jelas diotakku. Akhirnya, orang ini sadar juga, pikirku.
“Setelah satu tahun,” Bayu melanjutkan “cowoknya Dea dateng nyamperin gue ke Australia. Dia marah-marah sampe ngancem mau bunuh gue. Gue gak abis pikir, Dea bisa ngumpetin hal ini selama bertahun-tahun. Dia bilang, dia sayang sama gue, tapi gak bisa ngelepasin cowok yang sebelumnya. Gue langsung putus saat itu juga. Gue gabisa ngejalanin hubungan gila kayak gitu. Dea akhirnya balik ke Indonesia dan gak ngelanjutin kuliahnya disana. Ya gue tau itu pasti terjadi, toh Dea juga ikut kuliah di Australia karna gak mau LDR sama gue”
“Ta, gue udah berhasil meraih apa yang gue gue impikan dulu. Gue pernah cerita sama lo kalau gue mau kuliah di luar negeri dan ternyata gue berhasil. Tapi, semua itu terasa kurang bagi gue,” Bayu menghela nafas panjang, “5 tahun di Australia bukanlah hal yang mudah. Ada satu hal yang membuat hari-hari gue disana tuh sulit banget. Gue selalu dihantui oleh bayangan seseorang. Gue sadar ternyata selama ini gue udah membohongi diri gue sendiri kalo gue memang jatuh hati sama dia semenjak pertama kali bertemu di Masa Orientasi Siswa. Gue bodoh karna gue terlalu naif dan menganggap rasa itu hanya sebatas rasa pertemanan. Tapi sekarang gue gak ragu lagi. 5 tahun adalah waktu yang cukup untuk meyakinkan diri dan gue bener-bener yakin kalau gue gak bisa ngelupain dia sampe detik ini juga..”
Raut wajah Bayu bertambah serius. Aku yang sedari tadi hanya mendengarkan dibuat bertanya-tanya dalam hati, apa orang yang Bayu dimaksud itu adalah Aku? Ah, aku rasa tidak mungkin.
“Lo tau gak, rasanya punya masalah sama lo tuh kayak punya bisul yang gak pecah-pecah. Gue bingung cara nyembuhinnya. Ditelfon gak diangkat, sms gak dibales, chat, email segala macem udah gue coba buat ngehubungin lo, tapi gak ada satupun yang lo bales. Kenapa sih, Ta?”
“Gue minta maaf, Bay..”
“Gue udah gamau lagi kehilangan lo untuk yang kedua kalinya.” Bayu meraih kedua tanganku, “Makasih karna lo selalu ada disaat kondisi gue kayak apapun, bahkan mungkin setelah gue gak percaya sama lo, gue tau lo masih terus nanyain kabar gue ke anak-anak. Makasih karna lo, gue belajar banyak hal. Makasih untuk rasa yang udah lo kasih ke gue. Gue....Gue sayang sama lo, Ta. Entah dari kapan, tapi gue selalu sayang sama lo dan gabisa terus berhenti mikirin lo”
Aku terkejut mendengar pengakuan Bayu. Aku mencubit lenganku untuk memastikan bahwa kejadian ini nyata.
“Ta, maafin gue untuk semua kebodohan yang pernah gue lakuin. Tapi please, gue minta lo untuk ada lagi di hidup gue dan jangan pernah pergi”
Pandanganku dan Bayu tidak lepas satu sama lain. Aku bisa masuk kedalam dirinya dan merasakan apa yang dia rasakan. Aku juga tidak ingin dia pergi kemana-mana.
“Gue emang sengaja gak ngebales satupun sms, telfon, email ataupun chat dari lo. Karna gue terlalu sakit ngeliat lo sama orang lain dan untuk menghargai persahabatan kita juga. Tapi, asal lo tau, semua yg gue lakuin itu percuma. Gue masih mikirin lo setiap saat, setiap waktu. Gue gak bisa berhenti mikirin seseorang yang udah ngasih gue karet ini,” Aku menunjukan beberapa helai karet di tanganku, “karet ajaib pemberian seseorang yang ajaib” lanjutku. Kenangan-kenangan indah pun menyeruak kembali. Karet itu digunakan Bayu untuk mengikat sol sepatuku yang lepas ketika kami pulang sekolah bersama. Aku memutuskan untuk menyimpan dan memakai karet-karet itu setiap hari. Sebab, peristiwa tersebut membekas sangat dalam dihatiku. Bayu tercengang dan terkikik.
“Hahaha, kok masih disimpen sih?” Bayu melepas helai-helai karet tersebut dari tanganku, “Buat gue boleh gak?”
Aku menganggukan kepala. Tidak apa-apa, karna berada disisi pemilik karet-karet itu saja sudah sangat cukup bagiku.
“Sebagai gantinya, gue kasih karet yang lebih ajaib” ujarnya.
Tiba-tiba, Bayu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Ini adalah karet ajaib yang gak akan pernah bisa ngebuat lo pergi lagi dari gue. Apalagi pergi ninggalin gue di Mall”
Bayu memasangkan cincin ke jari manisku sambil tersenyum. Senyum yang dulu pernah membuat kebahagiaan di setiap hari-hariku.
“Karet ajaibnya kecil ya?” sahutku. Mataku mulai berkaca-kaca. Bayu pun memelukku dan mencium keningku. Aku tidak mencubit lenganku lagi karna aku mau kejadian ini nyata, harus nyata. Aku sangat bahagia. Aku kembali mendapatkan Bintangku yang telah lama pergi. Because, no matter where we are, no matter how hard it is, love will always find a way..
Dan beberapa saat kemudian.. “PLOK!” aroma telor sudah menyatu denganku. Sahabat-sahabatku bersorak bahagia. Misi mereka pun dinyatakan berhasil.
Komentar
Posting Komentar