Cerpen: Love will always find a way (Part. 1)



“Gue mau dibawa kemana sih?”
“Udah ikutin aja” jawab perempuan yang aku kenal betul suaranya.
Malam ini tepat pukul 12 malam, aku genap berusia 23 tahun. Tidak ada curiga sedikitpun awalnya. Sampai tiba-tiba aku dikejutkan dengan seseorang yang membangunkanku dan menutup mataku secara paksa.
“Siap-siap ya..” ujarnya lagi sambil memegangi tanganku seperti polisi yang sedang menggiring penjahat. Langkahku pun terhenti, dan kurasa aku sudah sampai ditempat aku akan dieksekusi.
“Gue buka petutup matanya tapi abis hitungan ketiga baru lo boleh buka mata” tangannya melepas ikatan kain yang melekat di kepalaku.”Oke, gue hitung sampe tiga ya. Satu.. Dua.. Tiga..”
Tepat setelah hitungan yang diizinkan, kubuka mataku perlahan-lahan.
“Happy Birthday Taniaaaaaaa!!!!”
Dengan penglihatan yang masih samar-samar, kulihat 4 orang kesayanganku. Iput, Saskia, Ryan, dan Dafa. Sahabat-sahabatku sejak duduk di bangku SMA.
“Aaaa... Ya ampun kaliaaaan... Thankyou yaa.... ”
Aku menghampiri dan memeluk mereka satu persatu. Sahabat-sahabat kesayanganku. Mereka tidak pernah absen memberikan surprise ulang tahun di setiap tahun pertambahan umurku. Lebih tepatnya, surprise yang merujuk pada penyiksaan. Memang sudah menjadi kebiasaan "Geng Super Heboh" ini sejak di bangku sekolah untuk saling memberikan kejutan ulang tahun. Dan hal ini tetap dipertahankan sampai sekarang agar kami bisa terus bertemu. Ya.. Walaupun harus mengalami banyak bentrok karna kesibukan masing-masing. Meski begitu, kami selalu mengusahakan free day jika ada yang berulang tahun. I'm the lucky one. Sangat beruntung memiliki sahabat yang caring dan perhatian seperti mereka.
Tiba-tiba... Pandanganku terpaku pada lilin-lilin menyala berbentuk tanda Love yang telah tersusun rapi tak jauh dari tempatku berdiri. Saskia yang menangkap kebingunganku langsung menjawab pertanyaan tersiratku.
“Ibu Tania, dipersilahkan untuk masuk kedalam tanda Love ini dan berdiri ditengah-tengahnya.” ujar Saskia.
“Kok kalian sweet banget, sih? Sumpah kayak anak ABG segala pake dibikinin tanda love. Mudah-mudahan aja gak ada yang mengenaskan malem ini.....” Ujarku ragu-ragu. Aku menerka-nerka dalam hati apa yang akan aku hadapi setelah ini. “Please, gue males banget bau telor” pintaku dengan muka memelas.
“Hahaha, gausah banyak nawar deh.. Buruan berdiri disitu!” jawab Iput cengengesan. Dialah orang yang pasti bertugas sebagai polisi dadakan tadi. Tunggu pembalasanku, Put!
Akhirnya, aku menuruti perintah para penjagal-penjagal ulang tahun ini. Aku pun berdiri diantara lilin-lilin berbentuk Love yang tampak bahagia karna sedang menyinari si ‘Birthday Girl’ dengan cahayanya.
"Trus apaan lagi nih sekarang?" tanyaku.
"Yaelah gak sabar amat, sih. Pengen cepet-cepet jadi penggorengan telor apa? HAHAHA" sahut Iput dengan wajah kejamnya. Aku pun memelas kembali.
"Oke, Ta, sekarang lo merem" Kini giliran Ryan yang memberikan perintah.
"Lah? Kok merem lagi, sih, Yan? Kan tadi udah. Mana pake di-kekep mulutnya udah kayak korban penculikan." ujarku sambil melirik ganas kearah Iput. Iput cengegesan.
"Tutup mata atau telor?"
"O...Oke.. Oke... Gue merem!!" Aku pasrah dan memejamkan mata kembali. Rasa penasaranku memuncak. Apa sebenarnya yang direncanakan sahabat-sahabat seperjuanganku ini?
"Sip, hitungan ketiga mulai buka mata lagi ya... Siap, Ta?" Ryan mengaba-aba. Membuatku semakin penasaran.
"Iya ah lama nih kan mau cepet cepet makan kue" sahutku.
"Satu... dua... tiga.... Buka mata, Ta"
Aku pun membuka mata untuk kedua kalinya. Mulutku sontak menganga. Aku tidak mempercayai siapa yang aku lihat telah berdiri dihadapanku. Laki-laki itu.. Dialah satu-satunya nama yang sering kutuliskan di Buku Diary-ku. Jantung yang sekian lama berhenti berdegup pun kini berdegup kembali. Oh, Tuhan.. Apakah ini nyata? Aku mencubit lenganku. Memastikan bahwa ini bukan sekedar mimpi.
"Bayu?" tanyaku masih dengan mulut menganga. Dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Yeah, it's Me. Nice to see you again, Tania"
Dia berdiri sambil memegang Strawberry Cheese Cake kesukaanku. Lilin ulang tahun yang menyinari wajahnya membuatku dapat melihat parasnya dengan jelas. Dia tidak berubah sama sekali. Masih tetap seperti Bayu yang aku kenal 5 tahun lalu. Hanya saja penampilannya terlihat lebih dewasa. Bayu, Sahabatku. Dialah orang yang selalu membuat hatiku bergetar meski aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tiba-tiba, Bayu masuk kedalam tanda Love dan berdiri lebih dekat dihadapanku. Terdengar suara Iput dan Dafa berdehem-dehem ria, begitupula dengan Saskia dan Ryan yang siap mengabadikan eksekusi ini dengan kameranya.
“Abis ini make a wish trus tiup lilinnya ya..” ujar Bayu. 
Aku menundukkan kepalaku sejenak lalu meniup lilin angka 23. Sahabat-sahabatku bertepuk tangan menandakan satu step dalam rencana telah selesai.
“Happy Sweet Twenty Three Birthday, Ta”
“Makasih ya, Bay”
Tiba-tiba Dafa dengan sigap mengambil kue ditangan Bayu seperti tahu akan tugasnya.
“Karna kita udah ada didalam tanda Love ini, berarti kita harus ngikutin semua peraturannya. Sekarang adalah forum kita berdua. Anggep aja ga ada orang disini, cuman ada kita dan kita bebas untuk ngomong apapun.”
Kita? Kata yang sangat aneh kudengar keluar dari mulut Bayu. Sahabat-sahabatku yang lain seperti paham skenario yang sedang dijalankan. Mereka tidak bersuara. Seketika ingatanku terbayang akan hari itu. Hari dimana Bayu pergi dan aku mulai selalu memikirkannya.
"Sebelum lo ngomong biar gue yang ngomong duluan." ujarku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan lagi kesempatan yang pernah aku biarkan pergi 5 tahun lalu. Kesempatan untuk mengungkapkan isi hatiku, kesempatan untuk menyampaikan rasa menyesalku, kesempatan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan terhadap Bayu.
"Ya, silahkan, Ta."
“Bay, gue mau minta maaf. Gue minta maaf karna gue bersikap kekanak-kanakan selama ini. Seharusnya gue sadar posisi gue sebagai sahabat lo, seharusnya gue gak boleh ngatur-ngatur lo. Gue cuman takut lo kenapa-napa. Gue ga pernah punya niatan buruk, apalagi ngerusak hubungan lo sama Dea. Jujur, gue emang kecewa karna lo gak percaya sama gue makanya gue menghindar dari lo. Maaf gue childish, Bay”
"Jadi lo masih kepikiran ini, Ta?"
"Iya. Gue gak bisa berhenti mikirin hal ini. Gue nyesel karna udah bersikap dingin ke lo bertahun-tahun. Maafin gue ya, Bay"
"Lo gak salah apa-apa kok, Ta. Gue yang salah."
Suasana menjadi hening. Ingatanku kembali ke masa itu. Masa-masa SMA yang indah. Dimana setiap hari yang terlewat menjadi rangkaian kisah-kasih remaja penuh dengan canda, tawa, konflik serta pelajaran hidup didalamnya. Dinamika disetiap masalah tak lain dan tak bukan adalah sebuah tantangan dari Tuhan semata. Semuanya terbungkus dalam suatu proses menuju kedewasaan yang akan terkenang sepanjang masa. Begitu pula dengan kisahku dan Bayu. Cinta pertamaku, sahabatku.. yang kini telah berdiri dihadapanku sejak beberapa tahun silam tidak pernah bertemu.
“Lo tau gak kenapa gue balik lagi kesini?" Bayu memecah keheningan.
Aku menggelengkan kepala
"Ini semua karna lo"
"Maksudnya?"
"Ta, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk gue merubah keadaan.." 
Aku memandanginya, tidak bisa menebak arah pembicaraan ini menuju kemana.

..to be continued..

Komentar

Postingan Populer