Jurus “Taklukan Hidup” ala Bankir Makassar

Direktur Utama Bank Sulselbar, H.A. Muhammad Rahmat
foto diambil dari banksulselbar.co.id

Penulis: Ayu Utami Saraswati


"Semua kejadian sudah terencana, tapi, bagaimana kita menjalankan fungsi-fungsi kebajikan. Yang penting lakukan saja yang baik. Tuhan juga pasti malu juga jika tidak memberikan rahmat yang baik kalau kita melakukan hal baik"

Pagi itu di tahun 1990, Muhammad Rahmat, sedang dalam perjalanan menuju kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemerintah Provinsi (Pemprov) untuk mengikuti kegiatan pra jabatan. Tak dirinya kira, hal yang begitu ia tunggu-tunggu sudah berada di depan mata. Tinggal selangkah lagi, Rahmat akan resmi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Diiringi perasaan haru dan bahagia, ia pun mengajak anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan turut serta pergi bersamanya.

Di tengah perjalanan, tetiba anaknya menangis. Si anak meminta sang ayah untuk membelikannya sebotol susu. Rahmat buru-buru merogoh kantongnya. Berharap segera menemukan uang untuk mengabulkan permintaan anak tercinta. Namun, ia hanya menemukan beberapa lembar uang recehan. Setelah dihitung-hitung, uangnya tidak cukup untuk membelikan anaknya susu. Perasaannya pun campur aduk. Sekilas peristiwa masa lalu langsung muncul dibenaknya.

“Saat kejadian itu, saya langsung teringat perkataan orang tua waktu saya kecil, ‘sekiranya saya menjadi pegawai bank, anak saya mungkin tidak akan menangis karena tidak ada susu’, katanya. Wah, dulu orang tua saya kesulitan membelikan saya susu, sama seperti saya sekarang,” kenang Rahmat dengan mata yang hampir berkaca-kaca, saat berbagi kisahnya kepada Infobank, Senin, 12 Maret 2018, di Mercantille Athletic Club, Gedung WTC 1, Lantai 18, Jakarta.

Rahmat semasa kecil ternyata pernah mengalami hal serupa. Orang tuanya yang kala itu bekerja sebagai pegawai negeri harus merantau ke Jakarta untuk bekerja sambil menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Keuangan Niaga Negara (STIKEN). Gaji yang belum seberapa, membuat orang tuanya sulit membelikan susu jika Rahmat meminta. Kesulitan orang tua itu sangat membekas didalam hatinya hingga beranjak dewasa.

Singkat cerita, di akhir tahun 1989 atau beberapa bulan sebelum ia berangkat mengikuti pra jabatan, Rahmat juga diterima bekerja di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Selatan. Saat itu tidak terpikir olehnya untuk menerima pinangan BPD, sebab, Sarjana Sospol Administrasi Keuangan Negara dari Universitas Hasanuddin, Makassar, ini telah mengasah dirinya di ilmu sipil untuk menjadi abdi negara. Tetapi, usai mengalami kejadian yang membuatnya teringat pengalaman masa lalu dan obsesi orang tua, sulung dari enam bersaudara ini pun berpikir ulang.

“Kalau saya kerja jadi PNS, jangan sampe saya juga gabisa beli susu. Terus, teringat harapan orang tua saya waktu itu. Saya pun bilang, saya harus kerja di bank supaya anak saya bisa memiliki kesempatan untuk merasakan nikmat hidupnya yang baik. Walaupun di PU mungkin posisi saya bisa lebih besar,” ujar pria kelahiran Makassar, 6 Januari 1963 ini.

Rahmat dirundung pergolakan batin antara memilih menjadi pegawai BPD atau pegawai negeri. Di tengah kebimbangan itu, ia berdoa kepada Sang Pencipta, “Letakkan, lah, saya dalam keadaan-keadaan yang terbaik. Letakan, lah, saya pada peran yang baik”. Kemudian, entah mengapa, hatinya tergerak pada satu pilihan. Ketika hari pra jabatan tiba, ia putuskan untuk mengundurkan diri dari keikutsertaannya. Dan otomatis pula, ia berhenti dari posisinya sebagai pegawai negeri. Jadilah ia banting setir ke jalur perbankan, yang bukan cita-citanya, dengan kepercayaan dapat meraih hidup yang lebih baik. Rahmat akhirnya mulai meniti karir baru sebagai seorang bankir.

Pada awalnya, Rahmat sempat pesimis lantaran latar belakang pendidikan yang dimiliki. Namun rupanya, ilmu sipil telah menjadi amunisi Rahmat untuk melalui segala macam tantangan dan rintangan di bank plat merah milik Pemprov Sulawesi Selatan itu. Berbekal ilmu sipil pula, Rahmat ikut membangun BPD Sulawesi Selatan, yang kini telah berganti nama menjadi BPD Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar),  dari nol. Berbagai permasalahan terus menghampiri. Tetapi, pehobi jogging dan jalan-jalan menggunakan mobil jeep ini bisa melewatinya.

“Yang paling penting tata cara berpikir. Jadi, ilmu sipil saya mengantarkan saya berpikir tentang sebab akibat. Ilmu sipil, kan, mengajarkan bagaimana benda-benda yang bergoyang menjadi statis dan bisa berdiri,” kata Magister Manajemen dari Universitas Hasanuddin dan Magister Science/Sosial Program Penyelarasan Universitas Hasanuddin, Makassar, ini.

Siapa sangka, karirnya di BPD bersinar. Sejumlah jabatan penting pernah diembannya. Mulai dari Pemimpin Cabang Pangkep tahun 1996-2003, Pemimpin Cabang Gowa tahun 2003-2007, Wakil Pemimpin Divisi Akuntansi dan Teknologi Informasi tahun 2007, Direktur Pemasaran tahun 2007-2014, dan terakhir, ia dipercaya menahkodai BPD Sulselbar hingga tahun 2018.

Kini sudah menginjak 29 tahun lamanya, Rahmat berjibaku di industri perbankan. Apalagi saat ini, posisinya sebagai direktur utama menuntutnya harus membawa BPD Sulselbar mencapai target seiring dengan perannya menjembatani antara direksi perusahaan dan pemerintah. Bukan hal yang mudah baginya. Meskipun demikian, ada satu hal yang jadi pegangan dan pedoman Rahmat dalam bekerja, yaitu berserah diri, percaya, dan selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

“Semua kejadian sudah terencana, tapi, bagaimana kita menjalankan fungsi-fungsi kebajikan. Yang penting lakukan saja yang baik. Tuhan juga pasti malu juga jika tidak memberikan rahmat yang baik kalau kita melakukan hal baik,” pungkasnya.


*Artikel ini sudah terbit di majalah Infobank rubrik Profil Mei 2018*

Komentar

Postingan Populer