Diantar Suzuki A5 Jadi Direktur Utama
![]() |
Direktur Utama Jamkrindo, Randi Anto foto diambil dari website jamkrindo.co.id |
Penulis: Ayu Utami Saraswati
“Saya biasa datang pagi, jam 6.30 sudah di kantor. Kebiasaan dari dulu, sampai sekarang masih. Paling baca koran dulu di kantor, baca online, tapi kalau nggak pegang kertas (media cetak), kayaknya kurang"
“Tek-etek-etek-etek”
Senin hari
itu, suara khas knalpot motor Suzuki A5 sedang melaju mengantar Randi Anto ke
rumahnya di Semarang, Jawa Tengah. Randi hendak pulang menuju rumah usai
bekerja sebagai staf di Kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Kendal.
Ketika sampai, dengan balutan seragam korpri yang harus dipakainya setiap hari
Senin, Randi memasuki rumah yang telah ramai acara ibu-ibu. Salah seorang tamu
yang melihatnya tetiba berteriak memanggil sang pemilik rumah.
“Mbak, Yu! Kuwe
ono tukang pos,” panggil si tamu kepada Ibunda Randi. Saat Randi membuka helm,
tamu yang baru saja berteriak ternyata mengenalnya. Tamu itu pun terkesiap. “Wah,
anaknya mbak Prapto sing dadi pegawai negeri, kirain tukang pos,” ujarnya.
Tawa Randi
meledak usai menceritakan kejadian berkesan itu kepada Infobank, Jumat 2 Maret
2018. Tak heran bila disangka tukang pos, sebab diantara saudaranya yang lain,
anak ketiga dari enam bersaudara ini menjadi satu-satunya pegawai negeri. “Saya
jadi guyonan. Dipikir tukang pos karena pakai helm, seragam korpri dan naik
motor. Keluarga saya juga semuanya itu entrepreneur swasta. Jadi yang paling
aneh adalah saya,” kenangnya.
Meski
menganggap diri sendiri aneh, staf BRI cabang Kendal itu kini telah dipercaya
memegang Perusahaan Umum (Perum) Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), badan
usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di industri penjaminan kredit di
Indonesia sebagai Direktur Utama.
Bila menengok
perjalanan kariernya, Randi sejatinya adalah seorang bankir. Ia pernah menjabat
sebagai Kepala Divisi Manajemen SDM
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Credit Risk & Asset
Management PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Human Capital
& Asset Management PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan Direktur
Konsumer PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Menjadi bankir
bukan cita-cita yang dipatok oleh Randi muda. Cukup sederhana, ia hanya ingin
tidak “minta” lagi ke orang tua setelah mendapat pekerjaan. Dan kala itu
menurutnya, sektor keuangan, lah, yang bisa menampung citanya. Tak perlu
berpikir lama, Randi akhirnya menempuh jalan awal untuk menjadi seorang bankir
dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan di BRI.
Pada BRI,
jenjang kariernya bisa dibilang melejit. Tahun 1985, Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro,
Semarang, ini resmi masuk BRI dan mengikuti berbagai macam program, seperti
program Officer Development Program (ODP). Secara bertahap, program-program itu mengantarnya
lanjut pendidikan ke luar negeri hingga meraih gelar MBA, Banking dari St Louis
University, Amerika Serikat.
Pencapaian itu
diperoleh Randi karena terinspirasi beberapa seniornya. Sebut saja, Karmady
Arief dan Joko Santoso. Dari mereka, ia banyak belajar dan termotivasi dalam
mengejar ilmu pengetahuan. Selain senior, orang tua juga berperan penting dalam
kemajuan Randi saat ini. Meski sudah ditinggal ayah tercinta sejak kelas 1 SMA,
tetapi, Randi selalu ingat pelajaran integritas yang ditanamkan oleh keluarga.
Salah satunya kebiasaan datang lebih awal ke kantor.
“Saya biasa datang pagi, jam 6.30 sudah di kantor.
Kebiasaan dari dulu, sampai sekarang masih. Paling baca koran dulu di kantor,
baca online, tapi kalau nggak pegang kertas (media cetak), kayaknya kurang. Ini
persoalan umur sepertinya. Sudah jadi kultur,” ujarnya.
Saat ini, ia
mengemban amanah yang cukup luar biasa. Sebagai Direktur Utama perusahaan milik
negara di sektor penjaminan kredit, ia dituntut harus bisa membawa Jamkrindo
sesuai visi dan misinya. Bukanlah perkara mudah bagi seorang bankir yang
tiba-tiba terjun ke dunia penjaminan. Namun, jiwa kompetisi Randi yang telah
terbiasa bergelut dengan sektor UMKM ini, sudah mulai terpatri meski baru
menginjak lima bulan usianya memimpin Jamkrindo.
“Disana (bank)
tantangannya cari dana, kompetisi dengan perbankan yang lain. Sama, disini
tantangannya saya musti bisa melakukan risk assessment terhadap nasabah-nasabah
yang saya cari. Jangan sampai, kalau bahasa saya, bukan artinya tidak boleh
tabrakan sama bank, tidak, tapi bagaimana kita koompetisi sama bank. Karena
sebetulnya sama, nasabahnya juga bisa direct ke bank, tapi kalau jalanin ke
saya, saya kasih penjaminan artinya bank turun rate, saya kasih rate dia,
tinggal dihitung saja. Nah, itu kadang yang saya bilang koompetisi. Kolaborasi
sambil kompetisi,” katanya.
Ada yang
menarik dari pria kelahiran Semarang, 12 April 1961 ini. Ketika ditanya perihal
apa ingin dari lubuk hati terdalam bila dilahirkan kembali, ternyata, ayah dari
Devita Permata Sari dan Mutia Permata Sari ini ingin menjadi pengusaha. Namun,
bukan pengusaha di bidang bisnis, melainkan pengusaha di bidang sosial.
“Kalau lahir
sekarang, saya mau jadi entrepreneur. Saya menikmati social activities. Bisa
bantu orang, bikin yayasan ini, ke pendidikan ini. Jujur waktu Jamkrindo
kelayapan itu, saya bilang ‘kasih dia perpustakaan’. Karena kalau sekolah
dikasih perpustakaan itu, lempeng dia. Dibanding perbaikan sekolah. Menurut
saya, itu, sesuatu yang long term investment. Jadi social entrepreneur, terutama
human investment,” tutupnya.
*Artikel ini telah terbit di Rubrik Profil Majalah Infobank April 2018*
Komentar
Posting Komentar