Perjalanan Heroik Si Putra Jambi
![]() |
M. Yani, Direktur Utama Bank Jambi Foto ini diambil dari website bankjambi.co.id |
Penulis: Ayu Utami Saraswati
"Ternyata kalau kita memahami kultur semakin gampang kita memahami dan menghormati orang lain. Jadi yang saya pelajarin itu memahami kultur. Memahami kultur orang diharapkan kita lebih merespect orang lain"
Langit sedang
cerah-cerahnya ketika Infobank sampai di kantor fungsional Bank Jambi di
Generali Tower at Gran Rubina Business Park, Karet Kuningan, Jakarta, Senin, 19
April 2018, untuk memenuhi undangan dari orang nomor satu Bank pelat merah
milik pemerintah provinsi Jambi.
Tiba di lantai
12, Infobank memasuki ruangan kurang lebih seluas 4 x 6 meter persegi yang di
depan pintunya bertuliskan ruang Direktur Utama. Setelah masuk, tampak pria
berperawakan tegas dan rapi, si putra asli Jambi, menyambut Infobank dengan
jabat tangan mantap serta senyuman hangat.
Pria itu, ialah Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bank
Jambi, M. Yani atau yang kerap dipanggil Yani. Hari itu bertepatan dengan rangkaian
agenda Yani yang memang dijadwalkan sebulan sekali berkunjung ke Jakarta.
Kali ini, Yani didampingi
Direktur Pemasaran dan Syariah Bank Jambi, H. Yunsak El Halcon. Suasana makin
akrab, kala perkenalan singkat, berubah menjadi obrolan tidak bertenggat. Ditemani
sepiring buah-buahan, Yani mulai bercerita tentang pengalaman sebagai bankir
yang menguji nyali, kepemimpinan dan keberaniannya.
Cerita bermula
saat Yani bertugas menjadi General Manager PT. Bank Mandiri (Persero) di Dili
Timor Leste tahun 2008-2014. Menjelang masa tugasnya berakhir, ia harus
mengambil keputusan berat untuk menonaktifkan tiga orang karyawannya yang warga
asli Timor Leste.
“Teruji leadership
pas disitu. Apakah berani ambil keputusan atau tidak. Kalau tidak diberhentikan
(karyawannya), suasana kerja tidak nyaman. Sebagai seorang leader saya harus
berani putuskan,” kenang Yani, kepada Infobank.
Alhasil,
mengingat pernah terjadi konflik masa lalu antara Timor Leste dengan tanah air,
tindakan Yani mendapat kecaman dari berbagai kalangan di negeri berjuluk Bumi
Loro Sae itu. Ia pun didemo 60 orang karyawannya sendiri yang tergabung dalam serikat
buruh Timor Leste.
Si putra Jambi
membuat masyarakat Timor Leste berguncang. Tak sedikit media massa di Timor
Leste memberitakan dirinya. Dari peristiwa itu pula, hampir setiap hari Yani
menerima caci maki, teror serta ancaman.
“Mobil ditimpukin,
didatangi ke kantor sampai gebrak meja, diusir pulang ke Indonesia. Di wanti-wanti
sama Kapolri, Dubes, ‘Bapak, aset negara. Kalau ada apa apa, hubungan Indonesia
dengan Timor Leste jadi bermasalah,” ujar Yani.
Meskipun
mendapat tekanan dari banyak pihak, keberaniannya tak lantas surut. Puncaknya,
ketika Yani dipanggil parlemen Timor Leste dan disidang bersama ketiga
karyawannya. Jika sebelumnya ia diam, saat itu tekadnya bulat mengungkapkan
kebenaran. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Yani ungkap alasan dari
keputusannya yang kontroversial.
“Saya tunjukan
di depan Menteri bukti pembayaran. Ketiga orang ini, tidak menyetor uang
nasabah ke bank. Baru Menteri bilang ‘oh, gitu ya’. Selama ini saya gamau
bongkar. Malu, kan? Saya percaya diri saja. Saya merasa saya tidak salah. Kan dalam
kondisi yang memang benar,” tegasnya.
Peristiwa heroik
yang memacu adrenalin itu paling membekas bagi anak ketujuh dari delapan
bersaudara ini. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, apa yang membuatnya begitu
berani dan bernyali. Ternyata, selain karena mencintai pekerjaannya, mental Yani
sudah tertempa sedari muda.
Berangkat dari
latar belakang keluarga yang sederhana, Yani terbiasa bekerja keras dan jauh
dari kedua orang tua. Ia pun sempat membantu kedua orang tuanya berdagang kue. Sejak
kecil, Yani memang terlatih disiplin dan mandiri dari didikan sang Ayah yang
seorang mantan Tentara Angkatan Darat. Menginjak usia remaja, Yani merantau ke
Jakarta untuk menempuh pendidikan di sekolah menengah atas hingga perguruan
tinggi sembari bekerja sebagai guru dan penerjemah bahasa inggris.
Sesungguhnya,
Yani tidak pernah berniat untuk berkarir sebagai bankir. Cita-citanya dulu
ingin menjadi diplomat. Ia meraih gelar Master spesialisasi Commercial Law dari
University of Aberdeen, Scotland pada 1995 serta dua program sarjana dari
Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Indonesia masing-masing tahun 1988
dan 1989.
Kala itu,
baginya menjadi diplomat tidak memiliki peran jangka panjang di Indonesia. Oleh
sebab itu, ia putuskan untuk mulai terjun di dunia perbankan. Mungkin bisa
dibilang, Yani adalah seorang bankir merangkap diplomat. Sebab, Yani seringkali
bertugas menjadi bankir di luar negerinya, seperti Direktur Utama Mandiri International
Remittance Malaysia, General Manager Mandiri Dili Timor Leste, Mandiri Grand
Chayman, Cayman Islands serta Deputy General Manager Mandiri Hongkong.
Setelah 30 tahun berkelana, si “bankir
diplomat” kini memutuskan untuk mengabdikan diri dan berkontribusi bagi tempat
kelahirannya di Jambi. Rupanya, pengalaman berkelana ke banyak tempat berbeda
menjadi bekal ayah tiga anak ini menahkodai Bank Jambi. Salah satunya dengan
memahami kultur atau budaya daerah dan karakter orang lain.
“Kalau lihat wisdomnya ya, ternyata kalau kita
memahami kultur semakin gampang kita memahami dan menghormati orang lain. Jadi
yang saya pelajarin itu memahami kultur. Memahami kultur orang diharapkan kita
lebih merespect orang lain,” tutup pria kelahiran Jambi, 1 Januari 1961 ini.
*Artikel ini sudah terbit di Majalah Infobank rubrik Profil Juli 2018*
Komentar
Posting Komentar